Research References

Hubungan antara

KECERDASAN POTENSI DAN KECERDASAN PERFORMA

STUDI EKSPLANATIF DALAM PERSPEKTIF TEORI MULTIPLE INTELLIGENCE DENGAN PENDEKATAN DERMATOGLYPHICS DAN BUDAYA

Oleh: Efnie Indrianie, Audifax

2012

SMART Center for Human Research and Psychological Development

 

Abstrak

Kecerdasan Potensi merupakan salah satu faktor penting setiap individu. Kecerdasan Potensi dapat menjadi modal bagi berkembangnya Kecerdasan Performa jika mendapat dukungan dari lingkungan. Fingerprint analysis adalah salah satu metode mengenali Kecerdasan Potensi. Metode ini mendasarkan pada pola dan jumlah guratan sidik jari yang diasumsikan simetri dengan jumlah saraf di area-area otak, di mana area-area ini memiliki fungsi berbeda satu sama lain. Fungsi-fungsi otak ini kemudian ditranspose ke dalam komponen-komponen kecerdasan menurut teori Multiple Intelligences. Penelitian ini menguji keterkaitan komponen-komponen Kecerdasan Potensi dan komponen-komponen Kecerdasan Performanya. Hasil uji statistik menggunakan korelasi Pearson, menunjukkan bahwa lima komponen Kecerdasan Potensi memiliki keterkaitan dengan Kecerdasan Performa. Lima komponen tersebut adalah: Logika-Matematika, Logika-Bahasa, Musik, Kinestetik dan Intrapersonal. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa faktor budaya memiliki peran besar membentuk kecerdasan.

Kata kunci:

Kecerdasan Potensi, Kecerdasan Performa, Multiple Intelligences, Fingerprint, Lingkungan, Otak

 

Bab I

Pendahuluan

 

A. Latar

Potensi, adalah kata yang sering menjadi pembicaraan meski sangat abstrak dan bersifat laten. Ketika seseorang ditanya potensi dirinya, maka banyak kemungkinan jawaban muncul karena ada sejumlah sudut pandang untuk memahami potensi. Pengertian ‘Potensi’ makin kompleks ketika dikaitkan dengan ‘kecerdasan’. Terutama, ketika kecerdasan diasumsikan bersifat bawaan dan bentukan serta memiliki sejumlah komponen berbeda yang saling berkaitan. Di sini muncul sejumlah konsep dan bentuk pengukuran untuk mengidentifikasi potensi dan bagaimana potensi itu terbentuk melalui interaksi dengan lingkungan. Alasan ini membuat sebuah penelitian menjadi penting agar orang tak terjebak dalam penjelasan-penjelasan spekulatif atas apa yang tak dipahaminya dengan benar.

Penulis melakukan penelitian ini dengan tujuan memberikan eksplanasi ilmiah atas fenomena Kecerdasan Potensi dan Kecerdasan Performa. Istilah Kecerdasan Potensi merujuk pada kecerdasan yang bersifat bawaan (nature) sedangkan Kecerdasan Performa adalah kecerdasan yang tumbuh dari hasil belajar dan interaksi dengan lingkungan (nurture). Persoalan nature-nurture, pada dekade awal abad 21 mengemuka seiring meningkatnya penelitian mengenai otak dan sejumlah teori kecerdasan yang muncul di dekade akhir abad 20, salah satunya adalah teori Multiple Intelligences, yang dikemukakan oleh Howard Gardner, seorang profesor psikologi dari Harvard University.

Belakangan, teori Multiple Intelligences menjadi bagian dari salah satu fenomena nature-nurture yaitu ketika muncul penggunaan fingerprint sebagai identifikasi konfigurasi saraf di bagian-bagian otak. Seperti telah banyak diketahui, bahwa masing-masing bagian otak memiliki fungsi. Saraf di bagian otak, menentukan pula kekuatan fungsional dari bagian otak tersebut. Konfigurasi saraf di bagian-bagian otak ini, diasumsikan memiliki kesimetrian dengan bentuk dan jumlah guratan sidik jari, sehingga dengan mengenali pola dan jumlah guratan sidik jari, dapat teridentifikasi pola kekuatan fungsional yang ada di otak seseorang berdasarkan pertumbuhan saraf di bagian otak tersebut. Pola berdasar pertumbuhan saraf di bagian otak ini yang kemudian fungsionalnya ditranspose ke teori Multiple Intelligences.

Penelitian ini penting ketika banyak orang salah-kaprah memahami, terutama ketika mengaitkan teori Multiple Intelligences dengan berkembangnya fingerprint sebagai metode pengukuran. Multiple Intelligences dan metode pengukuran Fingerprint, adalah teori dan metode yang –sama dengan teori serta metode lain—digunakan sebagai sarana pembantu dalam menjelaskan sebuah fenomena. Dalam ilmu pengetahuan, sebuah teori diuji dalam keterkaitannya dengan konteks, sedangkan metode diukur dari tingkat akurasinya. Apa itu konteks dan akurasi? Konteks adalah seberapa suatu penjelasan dapat diletakkan sebagai dasar suatu masalah faktual tertentu, sedangkan akurasi adalah kedekatan pola temuan dengan masalah faktual yang tengah dijelaskan.

Kesalahkaprahan memahami terjadi pada mereka yang pro maupun yang kontra, baik terhadap teori Multiple Intelligences, maupun penggunaannya dalam metode pengukuran melalui fingerprints. Beberapa cara berpikir yang salah antara lain: keyakinan berlebihan terhadap IQ atau General factors, pemahaman yang campur-aduk antara fingerprints dan palmistry, pemahaman yang salah bahwa masing-masing kecerdasan dalam Multiple Intelligences berdiri sendiri, dan sejumlah cara pandang lain yang lebih dilandasi kekurangan dalam menguasai informasi dan pengetahuan. Kondisi ini semakin menegaskan dibutuhkannya sebuah penelitian yang menjelaskan keterkaitan kecerdasan potensi dan kecerdasan performa, dalam konteks teori Multiple Intelligences dan fingerprints sebagai alat ukur.

Penulis memulai dengan kenyataan bahwa bagaimanapun, setiap orang lahir dengan potensi, dan potensi tersebut jika dikelola dengan benar akan menjadi modalnya untuk survive dan berkembang di kehidupannya. Permasalahannya, bagaimana mengidentifikasi potensi? Jika potensi teridentifikasi, lantas bagaimana mencermati keterkaitannya terhadap perkembangan potensi tersebut secara aktual? Itulah inti persoalan yang hendak didekati melalui teori Multiple Intelligences dan metode Fingerprint Analysis. Penelitian ini bertujuan meletakkan teori Multiple Intelligences pada konteks persoalan yang hendak dijelaskan. Melalui uji statistik, akan diketahui keterkaitan Kecerdasan Potensi yang diidentifikasi melalui Fingerprint Test dan Kecerdasan Performa yang diidentifikasi melalui inventory test. Keterkaitan yang nampak, akan menjawab banyak hal.

Hal paling mendasar yang menjadi asumsi dalam memahami Kecerdasan Potensi adalah: Tiap manusia memiliki konfigurasi kemampuan otak berbeda. Kemampuan ini bersifat bawaan atau herediter. Atas asumsi ini, seseorang menjadi lebih mudah menangkap dan mengolah ketika stimulus hadir sesuai kekuatan pada konfigurasi kemampuan otaknya.  Stimuli bisa berbentuk verbal, visual, ritme, gerak atau lainnya. Potensi kecerdasan adalah modal bagi berkembangnya performa kecerdasan, yang memengaruhi bagaimana individu survive di kehidupannya. Tak pelak, pengenalan potensi kecerdasan menjadi aspek penting untuk mengenali hal yang bisa dikembangkan dari diri.

Pengenalan potensi kecerdasan adalah hal menarik dalam studi kognisi dan otak. Di Indonesia, wacana ini mengemuka terutama setelah masuknya Fingerprint Analysis (FPA), sebuah metode pengukuran Kecerdasan Potensi berbasis sidik jari, atau disebut juga Dermatoglyphics. Metode ini bertujuan mengenali konfigurasi saraf di bagian-bagian otak, terutama yang berkaitan dengan fungsi-fungsi pengolahan stimulus tertentu. Di Indonesia, sejumlah lembaga menyediakan jasa ini, antara lain: Spectrum Sinergy Biometric, DPI Consulting, Primagama dan beberapa lagi.

Dalam metode fingerprint, terdapat asumsi bahwa pertumbuhan guratan sidik jari: jumlah dan bentuknya, memiliki kesimetrian dengan sepuluh area otak berikut fungsinya. Metode fingerprint yang beredar, umumnya menjelaskan fungsi-fungsi otak dengan cara men-transpose ke teori Multiple Intelligence dari Howard Gardner. Mereka mencoba mentransformasi sepuluh fungsi otak ke dalam penjelasan delapan kecerdasan teori Multiple Intelligence: Logika-Bahasa, Logika-Matematika, Spasial-Visual, Musik, Kinestetik, Intrapersonal, Interpersonal dan Naturalistik. Hanya Kecerdasan Eksistensial dalam teori Multiple Intelligence yang tidak bisa dideteksi sebagai Kecerdasan Potensi.

Secara asumsi ontologis, keputusan mentransformasikan konfigurasi otak ke dalam Multiple Intelligence bisa dipahami. Gardner sendiri pernah menjelaskan kecerdasan yang bersifat bawaan, yang diistilahkannya raw intelligence[1]. Artinya, setiap manusia memang memiliki semacam ‘bentuk mentah’ kecerdasan, atau kecerdasan yang masih bersifat natur dan belum menjadi kultur. Bentuk natur ini akan menjadi semacam modal bagi berkembangnya kapabilitas kecerdasan seseorang ketika berinteraksi dengan kultur yang memberinya tempat berkembang. Jika mendapat dukungan secara tepat, maka apa yang sifatnya natur tersebut akan menjadi modal berharga bagi individu untuk survive di kehidupannya.

Penulis menyebut apa yang bersifat Natur tersebut sebagai Kecerdasan Potensi, yaitu semacam modal dasar atau bawaan, yang kelak bisa tumbuh menjadi Kecerdasan Performa, atau kecerdasan yang memang secara aktual berkembang dalam diri individu dan digunakan untuk survive di kehidupannya. Pertanyaannya di sini, sejauh mana bisa dibuktikan bahwa Kecerdasan Potensi memang menjadi modal utama bagi Kecerdasan Performa? Dan apakah fingerprint analysis, bisa digunakan untuk mengidentifikasi Kecerdasan Potensi? Dua hal itulah sebenarnya yang menjadi perdebatan panjang dan memerlukan penelitian untuk menjawabnya, baik bagi mereka yang pro maupun yang kontra.

Penggunaan Fingerprint sebagai sarana untuk mengidentifikasi kecerdasan potensi, menuai kontroversi. Kritik terutama ditujukan pada dua hal: Pertama, soal kesahihan sebagai alat ukur. Kedua, kalangan yang kurang setuju dengan konsep kecerdasan plural yang digagas Howard Gardner, terutama kalangan pendukung teori General Factors untuk kemampuan mental. Namun, bagi penulis, kritik tersebut merupakan jalan untuk menjelaskan lebih jauh mengenai Kecerdasan Potensi, Kecerdasan Performa dan penggunaan fingerprint sebagai alat untuk mengidentifikasi Kecerdasan Potensi dan keterkaitannya dengan Kecerdasan Performa.

Dalam penelitian ini, penulis melakukan kajian pada pengenalan Kecerdasan Potensi menggunakan metode Fingerprint Analysis (FPA) dan Kecerdasan Performa menggunakan metode kuesioner. Metode analisis yang penulis gunakan adalah pengujian statistik keterkaitan antara Kecerdasan Potensi yang teridentifikasi melalui FPA dan Kecerdasan Performa yang teridentifikasi melalui inventory test. Penelitian akan dilakukan pada populasi remaja SMA di salah satu sekolah negeri di Bandung. Sebanyak 324 siswa kelas satu telah menjalani dua tes, yaitu tes kecerdasan potensi menggunakan FPA dan tes kecerdasan performa menggunakan inventori tes. Sample populasi kelas satu sengaja dipilih karena mereka telah cukup dewasa sehingga potensinya telah mengalami interaksi dengan lingkungan dan berkembang menjadi performa. Selain itu, untuk siswa kelas satu SMA belum memperoleh intervensi yang banyak dari sekolah seperti layaknya siswa kelas dua dan kelas tiga. Sejumlah intervensi yang diberikan oleh pihak sekolah menengah atas biasanya bersifat sangat spesifik dan cenderung mengembangkan ekstrakurikuler yang memang sudah menjadi tradisi di sekolah untuk dikembangkan.

A.1. Posisi studi ini di antara studi lain

Peran penelitian ini adalah memberikan sebuah penjelasan ilmiah dalam rantai kausalitas. Hasil dari FPA seringkali menjadi asumsi bagi modalitas kecerdasan yang dimiliki anak. Asumsinya, seorang anak yang memiliki potensi kecerdasan tertentu, kecerdasan potensi musik misalnya, akan berkembang kecerdasan performa musiknya jika mendapat stimulasi dari lingkungan. Dalam asumsi semacam ini, ada kausalitas yang diandaikan ada. Kausalitas inilah yang perlu dibuktikan, apakah memang Kecerdasan Potensi Musik memiliki hubungan kausal dengan Kecerdasan Performa Musik. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah menjawab sebuah ruang kosong dalam rantai kausalitas keilmiahan FPA sebagai alat ukur kecerdasan yang sifatnya modalitas.

Ilmu pengetahuan, pada dasarnya bergerak dalam rantai kausalitas: A menyebabkan B, B menyebabkan C, C menyebabkan D, dst. Begitu pula dalam pengenalan Kecerdasan Potensi. Di situ terdapat rantai kausalitas. Kurang lebih, seperti inilah rantai kausalitas tersebut.

 

Konfigurasi fungsi otak berdasarkan pertumbuhan saraf simetri dengan jumlah guratan dan bentuk sidik jari pada masing-masing jari
Melalui FPA dapat diidentifikasi semacam Kecerdasan Potensi yang dapat menjadi modal bagi perkembangan Kecerdasan Performa
Kecerdasan Potensi akan menjadi modal bagi perkembangan Kecerdasan Performa jika mendapat dukungan dari lingkungan,
Terdapat konfigurasi fungsi otak berdasarkan pertumbuhan saraf yang bisa diidentifikasi sebagai Kecerdasan Bawaan (Potensi)

 

1
3
2

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam FPA hal yang belum terjawab adalah dua, yaitu Panah 1 dan Panah 3. Pada Panah 1, memang ada beberapa studi penting, seperti studi mengenai bentuk-bentuk Fingerprint yang dilakukan Francis Galton, juga temuan Roger Wolcoot Sperry mengenai hubungan antara belahan otak dengan tangan, serta temuan Stanley Cohen dan Rita Levi mengenai hubungan antara NGF dan EGF. Namun, ketiga penemuan tersebut belum bisa ditemukan keterkaitannya secara solid.

Sedangkan pada Panah 3, sejauh studi-studi yang telah kami pelajari, belum kami temukan studi pada Kecerdasan Potensi hasil identifikasi FPA sebagai modalitas, dan buktinya bahwa modalitas tersebut memang menjadi modal bagi perkembangan Kecerdasan Performa. Terutama, studi yang dilakukan di Indonesia.

Di sinilah kemudian, Penulis memutuskan untuk meneliti hubungan pada Panah 3. Pertimbangannya adalah, jika pada Panah 3 terbukti Kecerdasan Potensi bahwa hasil FPA memang menjadi modal bagi perkembangan Kecerdasan Performa, maka persoalan pada Panah 1 bukan tidak ada bukti atau penjelasan ilmiahnya, melainkan belum ditemukan bukti atau penjelasan ilmiahnya. Selanjutnya adalah proporsi para ilmuwan dari neurologi untuk mencoba menjelaskan keterkaitannya dari aspek neurosains.

A.2. Studi-studi terdahulu

M Cesarik, dkk dari Department of Neurology, General District Hospital Croatia melakukan penelitian berjudul Quantitative Dermatoglyphic Analysis in Persons with Superior Intelligence (1996). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ada faktor herediter yang teridentifikasi melalui fingerprint pada orang-orang yang memiliki IQ superior. Mereka meneliti 35 laki-laki dan 35 perempuan dengan rata-rata IQ 200. Dengan asumsi dermatoglyphic, bahwa pertumbuhan saraf di otak simetri dengan jumlah guratan dan pola sidik jari, penelitian ini memberi gambaran bahwa orang-orang tertentu secara herediter memang dilahirkan dengan potensi IQ yang sangat tinggi[2].

Zhai Guijun dari Beijing Oriental KeAo Human Intelligence Potential Research Institute, melakukan penelitian yang berjudul Report On Study Of Multivariate Intelligence Measurement Through Dermatoglyphic Identification. Penelitian ini dipublikasikan 15 April 2006. Studi ini membuktikan bahwa kecerdasan nampak sebagai suatu eksistensi fisiologis, yang ditentukan oleh gen. Kecerdasan berarti kepintaran individu, kapabilitas potensi untuk belajar, serta kapabilitas potensi bagi seseorang untuk mengenal, beradaptasi pada sesuatu dan mengubah lingkungan eksternal objektif. Proses ini terdiri dari faktor kecerdasan seperti: kekuatan berpikir, memori, persepsi, reaktivitas, dan kreativitas. Warisan genetik adalah penyebab internal untuk kecerdasan, yang merupakan faktor penentu. Lingkungan yang mendukung pertumbuhan adalah penyebab eksternal, yang dalam hal ini merupakan kondisi yang penting bagi pengembangan potensi kecerdasan. Faktor-faktor ini berinteraksi satu sama lain dan sama pentingnya. Namun, warisan genetik jelas menjadi dasar dan prakondisi yang memengaruhi perkembangan kecerdasan individu. Penelitian ini membuat secara terlepas dimungkinkan untuk membuat pengukuran fisiologis pada 7 kemampuan mental primer, yang ditentukan oleh Thurstone dan 8 bentuk kecerdasan berbeda dari teori kecerdasan yang ditemukan oleh Gardner. Kita sekarang dapat secara akurat mengukur kemampuan semacam: pengolahan citra bahasa, pemikiran matematika abstrak, olahraga, musik, seni, reaktivitas (kecepatan persepsi), introspeksi, dan kreativitas, serta banyak lagi[3].

Ratih Ibrahim, Ayu Sadewo, Harez Posma Sinaga, dan Aenea Marella pada 2010 melakukan penelitian berjudul ‘Analisa Sidik Jari dan Psikologi’. Pada penelitian tersebut ditemukan data deskriptif bahwa dari 610 sampel pengguna jasa fingerprint test, sebanyak 598 sampel menilai bahwa fingerprint test dapat mengukur secara baik aspek-aspek Multiple Intelligence. Penelitian ini mencoba mengeksplorasi lebih jauh validitas dan reliabilitas FPA dengan mengaitkan antara ridge count pada masing-masing jari dengan Total Ridge Count. Korelasi dilakukan menggunakan Pearson Correlation. Penelitian ini nampak menggunakan teknik uji-item klasik dan menemukan signifikansi yang tinggi pada semua item (yang dalam hal ini adalah ridge count pada masing-masing jari)[4].

Semua penelitian tersebut memiliki perannya masing-masing dalam menjelaskan fingerprint sebagai bentuk pengukuran. Penelitian-penelitian tersebut juga memberikan sejumlah jawaban. Beberapa hal yang terjawab melalui penelitian-penelitian tersebut adalah:

  • Penelitian M.Cesarik, dkk memberi penegasan bahwa pola sidik jari memiliki hubungan dengan kecerdasan, yang dalam hal ini adalah IQ.

 

  • Penelitian Zhai Guijun merupakan asumsi atas pengembangan alat ukur semacam FPT. Zhai menemukan fungsi-fungsi otak, yang sangat mungkin ditransformasi ke dalam teori kecerdasan majemuk semacam yang dikembangkan oleh Howard Gardner, atau teori 7 kemampuan mental primer dari Thurstone.

 

  • Penelitian Ratih Ibrahim, dkk menjawab persoalan bahwa guratan pada kesepuluh jari memiliki validitas konstruk. Artinya, pola guratan pada masing-masing jari memiliki keselarasan dan ‘mengukur’ sesuatu yang sama, yang dalam hal ini diasumsikan adalah fungsi-fungsi otak yang dikonstruksi dalam teori Multiple Intelligence.

 

Selain sejumlah hal yang telah terjawab tersebut, masih ada hal yang belum terjawab. Peneliti melihat bahwa masih tersisa pertanyaan:

 

  • Apakah Kecerdasan Potensi merupakan modal bagi individu?
  • Bagaimana peran lingkungan, khususnya orangtua sebagai pengasuh anak, dalam mengembangkan Kecerdasan Potensi menjadi Kecerdasan Performa?

 

Data pada penelitian Ratih Ibrahim, dkk, bahwa 598 dari 610 sampel mengindikasikan adanya sebuah hubungan antara komponen kecerdasan potensi dan aktualisasinya. Hanya saja, masih diperlukan pengujian lebih lanjut karena data tersebut hanya merupakan respon dan bukan merupakan pengujian. Namun, data tersebut merupakan sebuah awal bagi sebuah kemungkinan dalam pengembangan pemahaman akan kecerdasan, khususnya Multiple Intelligences. Di sinilah penulis merasa dapat mengambil peran dengan melakukan penelitian lanjutan yang menguji kesesuaian antara komponen kecerdasan pada kecerdasan potensi dan hubungannya dengan komponen kecerdasan pada kecerdasan performa.

Hasil penelitian ini akan menjadi sebuah pembuka bagi penelitian-penelitian lain yang bisa dikembangkan di ranah Kecerdasan Potensi dan perkembangannya menjadi Kecerdasan Performa.

 

B. Rumusan Masalah

Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan:

  • Apakah komponen-komponen Kecerdasan Potensi memiliki hubungan dengan komponen-komponen Kecerdasan Performanya?
  • Bagaimana peran lingkungan, dalam mengembangkan Kecerdasan Potensi menjadi Kecerdasan Performa?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan

  • Memberikan jawaban atas perdebatan keterkaitan antara kecerdasan potensi yang teridentifikasi melalui fingerprint analysis dan teori Multiple Intelligence, dengan kecerdasan performanya
  • Memberikan penjelasan mengenai fingerprint test sebagai alat untuk mengenali kecerdasan potensi, dan mendudukkan letaknya secara proporsional sebagai sebuah alat.

D. Batasan Masalah

Penelitian ini melihat keterkaitan antara Kecerdasan Potensi yang teridentifikasi melalui jumlah guratan pola sidik jari dengan Kecerdasan Performa yang teridentifikasi melalui tes inventori. Pembahasan teoritis mengenai kecerdasan yang digunakan adalah teori Multiple Intelligence dari Howard Gardner, karena teori itulah yang banyak dijadikan dasar untuk pengukuran fingerprint analysis.

E. Manfaat Penelitian

 

E.1 Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini memperkaya khazanah pemahaman dalam ranah kecerdasan. Hasil penelitian ini akan menjadi dasar bagi munculnya teorema dalam memahami kecerdasan, utamanya kecerdasan yang bersifat potensi dan berkaitan dengan otak, serta peran lingkungan serta budaya dalam membentuknya.

 

E.2. Manfaat Praktis

Penelitian ini akan menjadi dasar yang bisa dipertanggunjawabkan secara ontologis, epistemologis dan aksiologis bagi fenomena fingeprint dan penerapan Multiple Intelligences. Melalui penelitian ini, orang dapat memahami apa itu kecerdasan potensi, keterkaitannya dengan kecerdasan performa, sehingga tidak salah-kaprah dalam memahami dan membuat treatment.

 

BAB II

Kajian Teoritis

 

 

Salah satu tools penting dalam penelitian ini adalah Fingerprint Analysis (FPA). Memahami FPA sebagai salah satu tools, berarti memahami di mana letak tools tersebut dalam dunia pengukuran. Secara aksiologi, FPA termasuk jenis pengukuran biometri. Sedangkan secara ontologi termasuk neurosains dan secara epistemologi termasuk ranah keilmuan dermatoglyphic. Secara umum bisa digambarkan sebagai berikut:

 

Ontologi Epistemologi Aksiologi/Metodologi
Fingerprint Analysis Neurosains dan Kecerdasan Dermatoglyphic Biometri
Apa yang diukur sebenarnya adalah konfigurasi neuron di otak yang menjadi modal bagi berkembangnya kecerdasan Perkembangan konfigurasi saraf di otak yang menjadi modal bagi berkembangnya kecerdasan, diindikasikan simetri dengan pola guratan pada sidik jari. Pengukuran yang dilakukan adalah jenis pengukuran berbasis trait biologis

 

Penjelasan di atas menjadi titik pijak penelitian ini. Hal ini penting dipahami di awal, karena sering terjadi pertanyaan salah-kaprah semacam: “Kalau orangnya tidak punya sidik jari, berarti tidak punya kecerdasan?”. Tentu saja pertanyaan semacam itu mengesankan ketidakpahaman pengetahuan dan logika yang sangat mendasar, karena sidik jari dan kecerdasan bukan hubungan sebab-akibat. Dalam tabel di atas bisa dilihat, bahwa ontologinya adalah konfigurasi neuron di otak yang menjadi modal bagi perkembangan kecerdasan, bukan sidik jarinya. Posisi sidik jari adalah penjelasan epistemologik seiring temuan kesimetrian antara pertumbuhan saraf di bagian-bagian otak dengan guratan dan jumlah sidik jari. Dalam ilmu pengetahuan, pengukuran semacam ini termasuk dalam ranah biometri.

A. Neurosains dan Kecerdasan

Neuroscience dan kecerdasan, adalah bidang yang menekankan pada studi mengenai berbagai faktor neurologis yang mungkin bertanggung jawab untuk variasi kecerdasan dalam suatu spesies atau antara spesies yang berbeda. Studi di bidang ini banyak berkaitan dengan variasi dalam kecerdasan manusia, tetapi spesies lain yang cerdas seperti primata non-manusia dan Cetacea juga menjadi studi yang menarik. Mekanisme yang mendasari kerja mereka adalah kenyataan bahwa masih kurangnya pemahaman mengenai bagaimana otak menghasilkan fenomena kompleks seperti kesadaran dan kecerdasan[5].

Orang boleh saja mengatakan bahwa IQ atau Intelligences Quotient telah menjadi standar pengukuran bertahun-tahun, namun itu tak membuat kenyataan bahwa kerja otak masih menyimpan banyak hal yang tak terjelaskan. Dalam ilmu pengetahuan, lamanya sebuah pemikiran tidak secara langsung mengatakan kesahihan pemikiran tersebut. Apalagi dalam ranah yang masih terbuka kemungkinannya seperti kerja otak. Kemungkinan-kemungkinan penemuan baru masih terbuka untuk ditemukan, terutama untuk menjawab hal-hal yang seringkali secara kurang akurat ditangkap oleh IQ.

Kekurangakuratan IQ, terutama dalam mengukur kapasitas otak, dipersoalkan oleh Ian J. Deary dari Edinburgh University, bersama koleganya Peter G. Caryl, dan Elizabeth J. Austin dari Biomathematics and Statistics Scotland, menuliskan dalam Testing versus Understanding Human Intelligence (2000), bahwa kapasitas psikometri sebagai alat ukur kecerdasan, yang diterjemahkan dalam tes IQ pada dasarnya kurang memuaskan untuk mengukur kemampuan otak berdasarkan fungsi-fungsinya[6].

Mengingat  kompleksitas dan kurang terpahaminya rantai peristiwa antara sebab (peristiwa di otak)  dan efek (respon terhadap item psikometri),  maka perlu untuk dicari bukti bahwa proses pengukuran yang dilakukan adalah bermakna. Seashore (1902)  menekankan kebutuhan untuk menemukan  tes mental yang menjelaskan model fungsi mental dan pada saat yang sama mempertahankan pengukuran psikometri sebagai pengukuran yang valid[7].

Pada tahun 2009, sebuah penemuan semakin mengukuhkan apa yang dikatakan oleh Deary, dkk. Ralph Adolphs, Professor Psikologi dan Neurosains serta professor biologi di Institut Teknologi California (Caltech), serta Jan Gläscher, telah melakukan pemetaan otak yang paling komprehensif saat ini, dan dikaitkan dengan kemampuan kognitif yang diukur dengan Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS), tes kecerdasan yang paling banyak digunakan di dunia. Hasilnya, menawarkan wawasan baru. Wawasan ini merevisi pemikiran mengenai berbagai faktor yang menjadi ukuran skor “kecerdasan quotient” (IQ), temuan Adoph, dkk menunjukkan bahwa kecerdasan bergantung pada daerah-daerah tertentu dari otak[8].

Penjelasannya demikian, Tes IQ adalah sebuah tes yang disusun berdasarkan konsep G Factor dari Charles Spearman. Menurut Spearman, manusia memiliki dua kecerdasan, yaitu Specific Intelligence dan General Intelligence. Specific Intelligence merujuk pada bagaimana seseorang mampu menunjukkan kemampuan lebih ketika melaksanakan tugas tertentu. Sedangkan General Intelligence merujuk pada sebuah rerata atau performa umum yang menjadi standar dari banyak orang.

G Factor mengasumsikan otak sebagai satu kemampuan, yang meliputi penguasaan berbagai bidang tugas. Seperti diilustrasikan Spearman dalam gambar lingkaran merah ini.  Ada berbagai sub-tes yang mengukur berbagai kemampuan, yaitu: visual, verbal, abstract-reasoning problems, aritmetika, spatial imagery, reading, vocabulary, memori atau general knowledge. Semua itu diasumsikan mengukur sebuah kemampuan general yang terpisah dari apa yang sifatnya fungsi spesifik dari otak. Artinya, kecerdasan umum adalah kecerdasan yang berkaitan dengan keseluruhan fungsi otak dan menjadi ukuran level kecerdasan seseorang.

Adolphs mengatakan bahwa jika asumsi selama ini adalah kecerdasan secara umum (g intelligence) tidak tergantung hanya pada area otak tertentu, tapi dengan studinya pada keseluruhan fungsi otak, justru bukan itu yang Adolph temukan. Faktanya, daerah tertentu dan koneksi yang ditemukan, sejalan dengan teori kecerdasan yang disebut ‘parieto-frontal integration theory’. General Intelligence tergantung pada kemampuan otak untuk mengintegrasi –menarik secara bersama – berbagai hal terkait saat proses berlangsung, yang mirip dengan memanggil kembali apa yang sudah ada dalam memori[9].

Adolph melakukan percobaan pada 241 pasien neurologi yang direkrut dari University of Iowa. Mereka adalah pasien yang mengalami luka pada bagian otak tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luka di korteks frontal kiri dikaitkan dengan nilai lebih rendah pada indeks pemahaman verbal, luka di korteks frontal dan parietal kiri (terletak di belakang  lobus frontalis) dikaitkan dengan nilai lebih rendah  pada indeks memori kerja, dan luka di korteks parietalis kanan dikaitkan dengan nilai lebih rendah pada indeks persepsi organisasi.

 

 

 

Gambar di atas menunjukkan korelasi bagian otak dengan major domains dalam tes WAIS (verbal comprehension (blue), perceptual organization (red), working memory (green), dan processing speed (yellow). Penemuan ini menunjukkan bahwa bagian otak tertentu memiliki fungsi tertentu yang memengaruhi performa kecerdasan. Rincian tentang struktur intelijensi yang diberikan oleh penelitian ini dapat berguna untuk revisi masa depan tes WAIS sehingga berbagai subyek dapat dikelompokkan berdasarkan kesamaan neuroanatomical bukan pada kesamaan perilaku, seperti yang terjadi sekarang[10].

Seperti dikatakan Adolph, bahwa penelitiannya mengonfirmasi lebih jauh teori parieto-frontal integration (parieto-frontal integration theory) yang kerap disingkat P-FIT. Teori ini dibangun oleh Rex E. Jung, dari Departments of Neurology and Psychology, University of New Mexico, dan The MIND Research Network bersama Richard J. Haier dari University of California. Kedua peneliti ini melakukan review pada 37 imaging study pada otak yang berkaitan dengan kecerdasan.

 

 

Gambar di atas adalah pemetaan berbagai studi dan hubungannya dengan bagian otak[11].

Haier mengatakan bahwa studi neurosains terakhir mengarahkan pada pemahaman bahwa kecerdasan berkaitan dengan bagaimana informasi secara baik dihantar ke bagian-bagian otak. Review pada imaging study mengidentifikasi stasiun-stasiun yang menjadi rute informasi pada proses kecerdasan yang sedang berlangsung. Jika kita tahu di mana letak stasiun-stasiun tersebut, kita bisa melakukan studi bagaimana tempat-tempat itu berhubungan dengan kecerdasan[12].

 

Haier dan Jung mengidentifikasi area-area yang diduga penting:

 

 

Data yang ditemukan Haier dan Jung menunjukkan bahwa beberapa area otak berhubungan dengan kecerdasan adalah juga area yang berhubungan dengan atensi dan memori serta fungsi yang lebih kompleks seperti bahasa. Haier dan Jung mengatakan bahwa sangat mungkin ada integrasi fungsi kognitif yang mengarahkan pada pemahaman bahwa level kecerdasan mungkin berbasis pada seberapa efisien frontal-parietal memproses informasi.

Peer atau rekan seprofesi dari Haier dan Jung, yaitu Earl Hunt, psikolog dari University of Washington menulis: “P-FIT model dari Jung dan Haier menunjukkan sebagai jauh progres untuk memahami basis biologis dari kecerdasan. Dua puluh lima tahun lalu peneliti-peneliti di ranah ini terlibat dalam diskusi mengenai relasi antara ukuran tengkorak dan skor tes intelejensi. Dengan kemajuan dalam pengukuran otak dibanding abad lalu (Jung dan Haier) bisa melangkah lebih jauh dan mengagumkan dalam meletakkan cara melihat perbedaan individual dalam kecerdasan mereka, yang bergantung pada bagaimana individu memiliki perbedaan pada area tertentu di otak dan koneksi antar area tersebut.” [13]

Penelitian Haier, dkk serta Adolph, dkk, menunjukkan area tertentu otak memiliki keterkaitan dengan fungsi tertentu, dan ketika fungsi tersebut bekerja, maka proses kerja tersebut akan terkait dengan fungsi-fungsi lain sebagai pendukung dan memengaruhi bagaimana hasilnya. Tentu saja sebagai suatu kesatuan organ, bagian-bagian otak tidak bekerja terpisah, namun penelitian ini menunjukkan pula bahwa bagian tertentu otak memiliki peran tertentu dalam penguasaan suatu tugas.

Penelitian Adolph, dkk maupaun Haier dan Jung, membuka pemahaman baru bahwa otak memiliki sejumlah fungsi yang berkaitan dengan area otak. Fungsi-fungsi ini memiliki kontribusi berbeda sekaligus berhubungan satu sama lain, untuk membangun kecerdasan individu. Setiap individu, memiliki konfigurasi berbeda, dan di situlah individu memiliki keunikan dalam kecerdasannya. Artinya, selain ukuran yang bersifat umum, terdapat kekhasan di situ. Di situlah yang menjadi dasar untuk memperhitungkan kesamaan neuroanatomikal, alih-alih kesamaan perilaku sebagai ukuran kecerdasan.

Adanya peranan dari otak dalam menentukan kecerdasan memang tampak jelas dalam penjelasan yang dikemukakan oleh Loveleena Rajeev dalam artikelnya “brain lobes and their function”. Ia mengemukakan bahwa bahwa frontal lobe merupakan bagian yang mengatur dalam proses berpikir dan hasil kerja dari bagian ini sangat berkaitan erat dengan kepribadian. Kematangan fungsi bagian ini tercapai pada saat mencapai usia 25 tahun. Untuk parietal lobe memiliki fungsi sebagai bagian yang mengintegrasikan berbagai informasi dari bagian tubuh dan erat kaitan dengan fungsi kinestetik pada manusia. Hal ini tentunya menjadi dasar dalam pelaksanaan atau eksekusi sesuatu. Bagian occipital lobe mengandalikan fungsi-fungsi yang mengatur tentang fungsi visual pada manusia. Hal ini berkaitan erat dengan proses pengenalan berbagai objek yang ada di lingkungan. Selanjutnya temporal lobe merupakan bagian dari otak yang berfungsi untuk mengendalikan fungsi auditorik. Peranan dan kekuatan dari lobes tersebut tentunya akan menghasilkan fungsi-fungsi yang spesifik pada kecerdasan manusia. Itulah yang mendjadi dasar mengapa berkaitan dengan kecerdasan potensi itu sangat spesifik pada setiap individu (www.buzzle.com/articles/lobes-of-the-brain-and-their-function.html)

 

Penelitian-penelitian ini yang penulis gunakan untuk mendasari konsep Kecerdasan Potensi dan Kecerdasan Performa dalam penelitian ini. Studi-studi di atas menunjukkan bahwa otak dengan bagian-bagian dan fungsinya adalah sebuah potensi. Layaknya potensi maka sifatnya laten. Kemunculan potensi tersebut dalam kehidupan individu adalah sebuah performa atau aktualisasi dari potensi. Tidak selalu sebuah potensi dapat teraktualkan, atau tak selalu sebuah potensi teraktualkan dalam suatu cara yang sama. Bentukan lingkungan atau faktor nurture memiliki pengaruh bagi aktualisasi potensi.

A.1. Kecerdasan Potensi

Kecerdasan Potensi adalah kecerdasan yang sifatnya herediter atau dipengaruhi oleh genetik. Dengan demikian, sifatnya adalah bawaan atau natur. Studi mengenai heritabilitas IQ, misalnya, merupakan upaya menyingkap pentingnya genetik dan lingkungan bagi varian IQ di suatu populasi. Dalam konteks ini ‘heritabilitas’ merujuk pada kontribusi genetik pada varian dalam suatu populasi dan suatu lingkungan tertentu. Artinya, jika seseorang dianggap memiliki ‘kecerdasan bawaan’ yang berhubungan dengan matematika misalnya, maka hal tersebut akan nampak sebagai salah satu varian ekstrem pada suatu populasi atau lingkungan tertentu, meski mungkin sifatnya laten.

A.2. Kecerdasan Performa

Kecerdasan Performa adalah bagaimana apa yang menjadi potensi berinteraksi dengan lingkungan dan teraktualisasi atau berkembang menjadi performa individu. Secara neurologis, penjelasan akan hal ini adalah asumsi bahwa saat bayi, koneksi neuron belum sepenuhnya terdiferensiasi. Neuron-neuron membuat koneksi dengan neuron lain yang berdekatan, dan hal ini menjadi makin kompleks dan makin idiosinkretik seiring anak tumbuh. Sampai, usia 16 ahun proses ini kemudian berhenti. Inilah yang kemudian menjadi time frame bagi studi psikometrik mengenai G Factor atau general factor dan kecerdasan. Faktor G inilah yang diukur oleh tes IQ. Asumsinya, IQ individu bergerak relatif stabil setelah ia mencapai kematangan usia. Maka dari itu, pengembangan kemampuan intelektual tertentu dari individu memerlukan dukungan stimulus lingkungan yang sesuai selama masa anak-anak, sebelum memasuki fase akhir dalam adaptasi koneksi neuron.

A.3. Fingerprint Analysis dan Fingerprint Test

Dalam pengembangan di Indonesia, terdapat dua jenis pengembangan fingerprint sebagai alat ukur. Sejauh penulis mengalami, ada jenis Fingerprint Analysis (FPA) dan Fingerprint Test (FPT). Perbedaannya terletak pada asumsi yang diletakkan atas hasil pengidentifikasian pertumbuhan saraf. Pada FPT, terdapat asumsi ‘wadah’ di mana semakin banyak jumlah saraf di suatu area kecerdasan, maka di situ akan semakin besar wadah untuk menyerap info atau stimulasi berkaitan dengan kecerdasan tersebut, sehingga ukuran besar ‘wadah’ dijadikan ukuran superioritas suatu komponen kecerdasan.

Pada FPA, justru diasumsikan terbalik. Semakin sebuah area memiliki saraf banyak dan mampu menyerap banyak informasi, maka akan semakin lambat dan kompleks cara berpikirnya. Ini memengaruhi kecepatan berpikir yang berkaitan dengan suatu komponen kecerdasan. Individu menjadi memiliki banyak pertimbangan dan tak berpikir ‘lepas’ atau cepat. Ini membuat semakin sedikit pertumbuhan saraf di suatu area, akan diasumsikan semakin kuat kecerdasan individu di area tersebut.

Sejauh pengalaman penulis dalam menggunakan fingerprint analysis, provider yang mengembangkan FPT adalah DPI Consulting dengan brand V-Genius, sedangkan provider yang mengembangkan FPA adalah Psychometric Data Solutions dengan brand Talent Spectrums.

B. Dermatoglyphic

Dermatoglyphics (berasal dari bahasa Yunani derma = kulit, glyph = guratan) adalah studi saintifik yang membahas mengenai fingerprint. Istilah ini pertama digunakan oleh Dr. Harold Cummins, bapak analisis fingerprint di Amerika. Identifikasi menggunakan fingerprint dalam berbagai bentuk dan tujuan, telah digunakan selama ratusan tahun. Semua primata memiliki gurat-gurat alur pada kulitnya, ini juga bisa ditemukan pada cakar sejumlah mamalia dan pada ekor sejumlah spesies monyet. Pada manusia dan binatang para dermatoglyph menghadirkan jari, telapak, kuku dan telapak kaki, sebagai sebuah cara pandang untuk memahami masa kritis pertumbuhan embrio ketika berusia antara 4 – 5 bulan, yang seiring berkembangnya bentuk bangunan utama sistem organ tubuh.

Studi mengenai fingerprint sendiri memiliki sejarah panjang. Sebagian yang bisa penulis hadirkan adalah:

Tahun Perkembangan
1684 Dr. Nehemiah Grew (1641 – 1712) mempresentasikan Finger Prints, Palms and Soles An Introduction To Dermatoglyphics di hadapan Royal Society.
1685 Dr.Bidloo mempublikasikan sebuah peta anatomi, Anatomia Humani Corporis, dengan ilustrasi-ilustrasi yang menunjukkan figur manusia baik dalam sikap hidup maupun sebagai membedah mayat.
1686 Dr.Marcello Malphigi (1628-1694) mencatat pada risalahnya; bentuk ridge, spirals dan loops pada fingerprint
1788 J.C.Mayer menjadi orang pertama yang menuliskan prinsip dasar analisis fingerprint dan menteorikan bahwa fingerprint adalah unik.
1823 Joannes Evangelista Purkinji, seorang fisikawan dan ahli biologi dari Republik Ceko, mulai mempelajari garis menonjol dan jelas pada kulit telapak manusia dan berusaha untuk mensistematisasi serta mencari hubungan antara apa yang tercetak di telapak tangan dan jenis manusia. Dr Jan Purkinje mengklasifikasikan garis papiler pada ujung jari ke dalam sembilan  jenis, yaitu: arch, tented arch, ulna loop, radial loop, peacock’s eye/compound, spiral whorl, elliptical whorl, circular whorl, dan double loop/composite
1880 The Nature Journal memuat  dua artikel yang ditulis oleh Profesor Henry Faulds dan Profesor WJ Herschel yang isinya merekomendasikan penggunaan sidik jari / Dermatoglyphics  sebagai cara yang unik untuk mengidentifikasi dan menemukan perbedaan khas di antara umat manusia
1892 Sir Francis Galton seorang antropolog Inggris dan sepupu Charles Darwin,  mempublikasikan bukunya yang berjudul “Fingerprints”, isinya membangun individualitas dan  permanensi dari sidik jari.  Buku ini termasuk sistem klasifikasi pertama untuk sidik jari.
1920 Elizabeth  Wilson, profesor dari Columbia University membawa pada level penelitian ilmiah dan penerapan metode statistic
1926 Harold Cummins, M.D. yang juga dikenal sebagai Father of Dermatoglyphics,  dan C.Midlo,  MD memelajari semua aspek  analisis sidik jari, dari antropologi sampai genetika dan perspektif embriologi.
1936 Dr.  Harold Cummins & Dr Charles Midlo juga meneliti embrio-genesis  pada pola ridge di kulit dan menetapkan bahwa pola sidik jari benar-benar berkembang saat individu berada dalam rahim dan sepenuhnya dibentuk ketika janin berada di bulan keempat.
1943 Terbitlah buku Finger Prints, Palms and Soles, sebuah kitab suci di bidang dermatoglyphics.  Sejak saat itu, Dermatoglyphics  resmi menjadi daerah penelitian profesional pengetahuan.
1944 Dr Julius Spier Psycho-Analytic  Chirologist menerbitkan buku “The Hands of Children”. Ia  membuat  beberapa penemuan penting khususnya di bidang perkembangan psiko-seksual  dan diagnosis  ketidakseimbangan serta permasalah di area psiko-seksual berdasarkan pola di tangan.
1950 Di dunia operasi otak  di Kanada, seorang profesor Banfill (Penfeild)  menerbitkan “Body of all parts of the brain associated with the cross-section map“  yang menunjukkan dermatoglyphics – sidik jari  memiliki kedekatan hubungan dengan otak.
1968 Sarah Holt, menerbitkan hasil kerjanya ‘The Genetika Ridges Dermal’, ia meringkas  penelitiannya yang berkaitan dengan pola dermatoglyphics pada kedua jari-jari dan telapak di berbagai bangsa, baik normal dan sejak lahir menderita kelainan.
1969 John J. Mulvihill, MD dan David W. Smith, MD  mempublikasikan The Genesis of Dermatoglyphics yang menunjukkan versi terbaru tentang bagaimana sidik jari terbentuk.
1970 Uni Soviet, menggunakan Dermatoglyphics  dalam memilih kontestan  untuk Olimpiade
1980  Cina melaksanakan pekerjaan  meneliti potensi manusia, kecerdasan dan bakat dalam perspektif dermatoglyphics dan human genome
1981 Profesor Roger W. Sperry  dan mitra penelitiannya dianugerahi hadiah Nobel untuk Biologi untuk kontribusi mereka terhadap penemuan fungsi otak kanan dan otak kiri serta teori dua sisi otak (dual brain theory).  Penelitian yang berkaitan dengan otak memasuki puncaknya pada tahap ini. Sejak saat itu, bahkan hingga sekarang penemuan ini banyak digunakan oleh para ilmuwan  dari berbagai bidang lain
1985 Dr Chen Yi Mou phd. dari Havard University melakukan penelitian Dermatoglyphics  berdasarkan teori Multiple Intelligence dari Dr  Howard Gardner. Ini penerapan pertama Dermatoglyphics  untuk bidang pendidikan dan fisiologi otak
1986 Stanley Cohen dan Rita Levi-Montalcini menemukan keterkaitan antara Nerve Growth Factor (NGF) dan Epidermal Growth Factor (EGF). Penemuan ini menjadi dasar kuat untuk keterkaitan antara pertumbuhan saraf di otak dan guratan sidik jari.
2000 Dr Stowens, Kepala Patologi di rumah sakit St Luke di New York, mengklaim dapat mendiagnosis  schizophrenia dan leukemia dengan akurasi hingga  90%. Di Jerman, dalam laporannya, Dr Alexander Rodewald menunjukkan bahwa dia dapat menentukan  banyak kelainan bawaan dengan akurasi 90%.
2004 IBMBS-Internasional Perilaku & Pengobatan Biometrics Masyarakat.  Lebih dari 7000 laporan dan tesis dipublikasikan. Saat ini Amerika Serikat, Jepang atau  Cina, Taiwan menerapkan dermatoglyphics  untuk bidang  pendidikan, dengan harapan  untuk meningkatkan kualitas mengajar dan meningkatkan efisiensi belajar dengan mengetahui  gaya belajar yang beragam.

 

Studi mengenai fingerprint telah dimulai lebih dari 300 tahun dan terus berlangsung dengan temuan-temuan yang progresif. Banyak penelitian dikembangkan, terutama sejak Stanley-Cohen dan Rita Levi-Montalcini menemukan bahwa di antara sekian banyak Growth-Factor[14] terdapat keterkaitan antara Nerve Growth Factor dan Epidermal Growt Factor, atau keterkaitan antara pertumbuhan sel saraf di otak dan pertumbuhan sel di kulit.

Temuan Cohen dan Levi-Montalcini ini yang kemudian menjadi dasar bagi pengembangan lebih jauh argumen dalam fingerprint test sebagai alat ukur untuk mengenali pertumbuhan pola saraf di otak individu. Proposisi lain yang digunakan memperkuat adalah temuan Roger Sperry mengenai hubunga otak kanan dengan tangan kiri dan otak kiri dengan tangan kanan. Di sinilah kemudian dibangun sebuah spekulasi yang menghasilkan alat ukur fingerprint. Masih ada rantai yang terputus dalam penjelasan secara neurosains, namun temuan ini menunjukkan indikasi adanya hubungan antara guratan di masing-masing jari dengan pertumbuhan saraf di bagian-bagian otak, serta kontribusinya pada kapabilitas seseorang.

C. Biometri

Biometri atau Biometrics (Yunani kuno: Bios, kehidupan dan Metros, pengukuran) adalah jenis pengukuran statistik berbasis biologis. Pada perkembangannya, biometri meliputi studi mengenai metode untuk mengenali keunikan manusia berdasar ciri fisik intrinsik atau ciri perilaku (behavioral traits). Pengukuran berdasarkan fingerprint termasuk jenis pengukuran berbasis biometri. Dengan demikian, fingerprint berbeda dengan jenis pengukuran psikologi pada umumnya yang termasuk dalam psikometri atau psychophysical method.

Dalam buku Biometrika (1901) yang ditulis oleh W.F.R. Weldon dan Karl Pearson, di tahun 1901, dengan Galton sebagai editor konsultan, dijelaskan bahwa biometri adalah studi statistik problem biologis. Galton, dalam pengantar menambahkan bahwa objek primer biometri adalah untuk membuat suatu perhitungan sehingga suatu materi menjadi cukup eksak untuk menyingkap perubahan yang baru mulai dalam evolusi yang akan nampak terlalu kecil bagi bentuk tampilan lain.

Lebih jauh kita bisa melihat di mana letak fingerprints dalam klasifikasi biometrik. Secara umum biometrik bisa dipilah menjadi dua klasifikasi besar, yaitu:

  • Klasifikasi Pertama, Biometrik yang secara fisiologis berhubungan dengan bentuk tubuh. Dalam klasifikasi ini, trait yang paling lama digunakan, lebih dari 100 tahun, adalah fingerprints. Trait lain adalah rekognisi wajah, garis tangan dan rekognisi selaput mata (iris).

Perkembangan terakhir, ada trend baru dalam mengombinasikan persepsi ke dalam database komputer, yaitu mesin pengenalan wajah. Pendekatan ini merujuk pada biometrik yang bersifat kognisi. Biometrik kognisi memiliki kemiripan dengan psychophysical method karena berdasar pada respon otak terhadap stimuli yang menjadi penggerak pencarian database di komputer.

  • Klasifikasi Kedua, biometrik yang berkaitan dengan perilaku individu. Karakteristik yang paling lama digunakan, dan masih secara luas digunakan hingga hari ini, adalah tanda tangan. Sedangkan pendekatan lain yang mulai bermunculan di klasifikasi ini, di antaranya: suara.

Suara dikategorikan trait fisiologis karena tiap orang memiliki perbedaan titinada. Rekognisi suara terutama didasarkan pada studi bagaimana cara orang berbicara, yang secara umum diklasifikasikan sebagai behavioral. Strategi biometrik lain, baik yang ada pada klasifikasi pertama maupun kedua, antara lain, retina, pembuluh di tangan, kanal telinga, facial thermogram, DNA, bau dan rajah tangan

Melalui penjelasan di atas, maka bisa dibangun pemahaman bahwa fingerprint test termasuk ranah biometri klasifikasi pertama, dan bukan psikofisik. Beberapa orang, kerap salah memahami hal mendasar ini dan menganggap bahwa fingerprint test termasuk ranah psikofisik.

C.1. Perbandingan antar jenis pengukuran dalam biometri

Dengan banyaknya hal yang bisa diukur melalui biometri, lalu, bagaimana perbandingannya satu dengan yang lain? A.K. Jain, Arun Ross dan Salil Prabhakar, mengungkapkan ada sejumlah parameter yang bisa kita gunakan untuk memahami perbandingan antara satu bentuk pengukuran biometri dengan bentuk pengukuran biometri yang lain. Parameter tersebut adalah:

  • Universalitas : Setiap orang semestinya memiliki sebagai karakteristiknya
  • Keunikan      : Seberapa baik membedakan antara satu orang dengan orang lain.
  • Permanensi  : Seberapa baik memiliki ketahanan terhadap perubahan
  • Collectability              : Kemudahan diambil datanya untuk diukur.
  • Performance  : Akurasi, kecepatan, dan seberapa meyakinkan teknologi yang digunakan
  • Acceptability  : Derajat kesepakatan masyarakat terhadap teknologi yang digunakan.
  • Circumvention : Seberapa mudah dicari substitusinya.

A.K. Jain, dkk merangking masing-masing bentuk pengukuran biometric ke dalam kategori yang ditandai dengan Low (L), Medium (M) dan High (H). Ranking Low mengindikasikan performa buruk dalam kriteria parameter tersebut, sedangkan ranking High menunjukkan performa yang baik.

Tabel berikut ini menunjukkan perbandingan sejumlah sistem biometrik berikut parameternya.

Comparison of various biometric technologies,modified from Jain et al., 2004

(H=High, M=Medium, L=Low)

Biometrics: Universality Uniqueness Permanence Collectability Performance Acceptability Circumvention*
DNA H H H L H L L
Retinal scan H H M L H L H
Iris H H H M H L H
Face H L M H L H L
Odor H H H L L M L
Facial thermograph H H L H M H H
Signature L L L H L H L
Keystrokes L L L M L M M
Fingerprint M H H M H M H
Gait M L L H L H M
Voice M L L M L H L
Hand geometry M M M H M M M
Ear Canal M M H M M H M
Hand veins M M M M M M H

* pada  circumventability, rangking ‘high’ justru menunjukkan bahwa biometric tersebut sulit dicari substitusinya.

Melalui tabel tersebut, kita bisa memahami posisi fingerprint dibanding bentuk pengukuran biometri lain, serta apa yang menjadi kekuatan dari fingerprint berdasarkan lima parameter yang dikemukanan A.K. Jain, dkk. Terlihat bahwa fingerprint tidak memiliki ranking ‘Low’ sama sekali, namun ‘Medium’ pada Universality dan Collectability.

D. Multiple Intelligence

Dalam fenomena fingerprint, teori Multiple Intelligences adalah teori yang cukup populer digunakan. Perlu dipahami bahwa peran teori di sini adalah menjelaskan fungsi-fungsi otak yang teridentifikasi melalui fingerprint test. Pembuat fingerprint test mentranspose fungsi-fungsi otak (yang teridentifikasi dari 10 area yang simetri dengan sepuluh jari di kedua tangan) ke delapan komponen teori Multiple Intelligences. Umumnya, kecerdasan kesembilan yaitu Kecerdasan Eksistensial dinyatakan tidak tertangkap. Namun, ada provider luar negeri, yang memasukkan Kecerdasan Eksistensial ke dalam tes fingerprint. Provider lain juga ada yang memilih teori selain MI, seperti salah satu provider yang memilih mentranspose ke teori DISC. Beberapa, ada juga yang mentranspose ke teori kepribadian. Itu semua adalah pilihan teoritis untuk membahas sebuah penemuan.

Multiple Intelligences adalah sebuah konsep kecerdasan yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Seperti dikemukakannya dalam buku Frames of Mind bahwa Multiple Intelligences berangkat dari kenyataan bahwa semestinya ada sebuah kecerdasan yang lebih dari sekedar memprediksi sukses akademis, dan seharusnya ada cara yang lebih baik dalam mengidentifikasi kapabilitas individual[15]. Di sinilah Gardner, kemudian mengidentifikasi ada setidaknya sembilan kecerdasan yang cukup menonjol yang dimiliki manusia. Kesembilan kecerdasan tersebut adalah:

Kecerdasan Deskripsi
Logika Matematika AbstrakBerpikir, menghitung, mengorganisasikan; cenderung merujuk pada struktur logika
Logika Bahasa Sensitif pada bahasa, pemaknaan, dan hal yang berkaitan dengan kata.
Spasial Observer, mampu berpikir tiga dimensi, suka menggunakan metafor
Kinestetik Bagus dalam mengendalikan tubuhnya dan memiliki ketrampilan motorik yang baik. Sering bergerak atau menggerakkan tubuhnya, bisa hanya bagian tertentu. Aktif.
Musik Sensitif pada ritme, pitch, intonasi. Dengan mudah mampu mengingat tune serta ritme.
Interpersonal Sensitif dengan mood, perasaan dan motivasi orang lain; interaktif dan mudah diajak terlibat
Intrapersonal Memiliki kepekaan akan diri, mampu untuk memahami dan mengakses perasaan yang ada dalam dirinya
Naturalistik Sensitif pada alam dan lingkungan; cepat memahami nama batu-batuan, bunga-bunga, burung. Menyukai kegiatan outdoor
Eksistensial ketertarikan pada konteks dari mana asal mula manusia di dalam gambaran besar tentang eksistensi hidup; dalam pencetusan pertanyaan-pertanyaan filosofis, seperti: mengapa manusia berada di bumi, apa peran manusia di dunia dan sebagainya; juga dalam menghargai diri sendiri sebagai entitas yang sangat bermartabat.

 

Multiple Intelligences, umumnya dipilih menjadi teori yang menjelaskan hasil fingerprint analysis karena keluasan pembahasan mengenai kapabilitas dan caranya dalam melihat kecerdasan yang tak semata Logika-Matematika dan Logika-Bahasa seperti dalam tes IQ. Komponen-komponen kecerdasan dalam Multiple Intelligences juga memiliki banyak kemiripan dengan fungsi-fungsi pada sejumlah area otak. Ketika muncul penemuan bahwa guratan di kesepuluh jari memiliki kesimetrian dengan pertumbuhan syaraf di sepuluh area otak, maka di situlah MI dipakai untuk pendekatan teoritis. Tujuannya lebih ke pengenalan bakat atau kapasitas inborn individu. Ketika kapasitas ini dikenali di usia yang dini, maka akan bisa diperhitungkan bagaimana mengembangkannya sehingga kemudian menjadi modal bagi individu bersangkutan untuk survive di kehidupannya.

Barbara K. Given, dalam buku ‘Brain Based Teaching’, Menjelaskan bahwa Multiple Intelligences dan beberapa pendekatan gaya belajar berada di bawah payung sistem pembelajaran alamiah otak. Given menjelaskan dalam tabel berikut:[16]

 

Tabel. Sistem Pembelajaran Alamiah Otak, Multiple Intelligences dan Wilayah Belajar.

 

Tiga Teori Fungsi KognitifPerbandingan Antara Sistem Otak, Multiple Intelligences dan Gaya Belajar
Sistem Pembelajaran Alamiah Otak Multiple Intelligences (Gardner) Wilayah Belajar (Dunn & Dunn)
Emosional Intrapersonal Emosional
Sosial Interpersonal Sosial
Kognitif Linguistik Psikologis
Matematika
Musik
Spasial-Visual Fisik
Fisik Kinestetik
Reflektif Natural Lingkungan
Lihat: Howard Gardner; (1983); Frames of Minds, New York, Basic BooksDunn & Dunn, (1993); Teaching Secondary Students through Their Individual Learning Styles; Boston: Allyn and Bacon

 

Multiple Intelligences dan beragam gaya belajar merupakan cara pandang relatif baru terhadap kerumitan faktor mental yang memengaruhi pembelajaran. Namun, pandangan ini merupakan salah satu bentuk cermatan bahwa kecerdasan tak dapat diletakkan dalam pandangan sebuah perspektif tunggal atau general semacam IQ. Sebelumnya, J.P. Guilford (1967) mengidentifikasi 120 ciri atau mode pemikiran sehingga ia juga mengelompokkannya menjadi operasi (operations), isi (content) dan produk (product). Operasi mencakup kognisi, memori, evaluasi, produk konvergen, dan produk divergen; faktor isi mencakup perilaku, visual-figural, auditori-figural, simbolik dan semantik; dan ciri produk mencakup apa yang oleh Guilford disebut unit, kelas, hubungan, sistem, perubahan, dan implikasi[17].

Multiple Intelligences dari Gardner sebenarnya memiliki banyak kemiripan dengan apa yang telah dieksplorasi oleh Guilford sebelumnya. Kesamaan lain, baik pemikiran Gardner dan Guilford mendapat tentangan keras dari penganut G-Factor. Kesamaan antara Gardner dan Guilford ini pada dasarnya memiliki keterkaitan dengan aspek neurologis pada otak yang membedakan individu satu dengan lain, seperti diungkapkan oleh Perkins (1995):

 

Gardner…percaya bahwa kecerdasan majemuk yang diusulkannya sebagian mencerminkan faktor-faktor neurologis yang mendasarinya. Kedua, beberapa kecerdasan Gardner tidak begitu berbeda dengan dimensi isi kecerdasan Guilford. Khususnya, kecerdasan figural Guilford (piktorial dan spasial) serupa dengan kecerdasan spasial Gardner; kecerdasan simbolik Guilford (angka dan notasi) adalah kecerdasan logika-matematik Gardner; dan kecerdasan semantik Guilford (kata-kata dan gagasan) adalah kecerdasan linguistik Gardner.
Selain persamaan, ada pula perbedaan. Kalau Guilford mendasarkan ciri kecerdasannya pada analisis faktor statistik, Gardner (1985) menyatakan bahwa “kecerdasan kandidat” dalam modelnya “lebih menyerupai pertimbangan artistik ketimbang penaksiran ilmiah”. Dengan demikian, kecerdasan tambahan sebanyak apapun bisa dimasukkan ke dalam model Gardner. Apa yang mendasari pemikiran Gardner adalah kenyataan bahwa tidak ada dan tak akan pernah ada, daftar kecerdasan manusia yang tak terbantahkan dan diterima secara universal[18].

Poin pentingnya di sini adalah munculnya pemahaman psikologi yang tidak memaksakan menerapkan sebuah standar tunggal untuk kecerdasan untuk menilai kapabilitas individu. Cara pandang inilah yang membuat Multiple-Intelligences kemudian banyak diterima dan diterapkan di pendidikan. Dalam konteks fingerprint test, konsep Multiple Intelligences memudahkan untuk memahami area-area potensi individu yang mendukung kapabilitasnya untuk survive di kehidupannya. Pengidentifikasian area-area potensi ini, diharapkan mempermudah untuk mengenali apa yang dapat dikembangkan lebih jauh pada diri seseorang.

 

 

 

E. Desain Penelitian

Berdasarkan atas asumsi teoritis mengenai fingerprints test dan teori Multiple Intelligences, maka penulis merancang penelitian yang bisa digambarkan secara ringkas dalam gambar berikut:

Apakah tumbuh menjadi…
Kecerdasan Performa
Kecerdasan Potensi

 

 

 

 

 

 

 

Desain penelitian ini penulis rancang untuk melihat korelasi atau hubungan antara Kecerdasan Potensi yang diidentifikasi melalui fingerprint dan Kecerdasan Performa yang diidentifikasi melalui tes inventory. Penelitian yang meneliti hubungan keduanya dianggap perlu karena masih menjadi ruang kosong yang belum ada pada penelitian-penelitian sebelumnya. Terisinya ruang kosong ini, dapat menjadi kelanjutan studi, baik mengenai fingerprint sebagai alat pengukuran maupun teori Multiple Intelligences.

F. Hubungan Antar Variabel

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dalam proses perkembangan, lingkungan memiliki pengaruh. Sementara penelitian lain menunjukkan bahwa faktor herediter memengaruhi perkembangan individu. Penelitian-penelitian tersebut dapat penulis jadikan dasar untuk menguji hubungan antara Kecerdasan Potensi dan Kecerdasan Performa. Artinya, Kecerdasan Potensi sangat mungkin berkembang menjadi Kecerdasan Performa.

Penelitian yang dilakukan Junita Anna, dkk pada tahun 2003 menunjukkan bahwa bentuk relasi orangtua – anak mendukung berkembangnya Kecerdasan Emosional. Dengan teknik statistik analisis faktor, dihasilkan empat jenis relasi orangtua-anak, yaitu: Equal Relationship, Supportive Parent, Dominant Parent, Distant Relationship. Lalu, keempat pola relasi tersebut diukur pengaruhnya terhadap perkembangan Kecerdasan Emosional.

Hasilnya, anak yang memiliki pola hubungan interpersonal Equal Relationship cenderung memiliki kecerdasan emosional yang paling tinggi. Anak dengan pola hubungan interpersonal. Supportive Parent cenderung memiliki kecerdasan emosional rata-rata. Anak dengan pola hubungan interpersonal Dominant Parent cenderung memiliki kecerdasan emosional rata-rata (lebih rendah sedikit dibanding Supportive Parent). Sedangkan anak dengan pola hubungan interpersonal Distant Relationship cenderung memiliki kecerdasan emosional paling rendah.[19]

Penelitian Junita dkk, menunjukkan bahwa sebuah kecerdasan performa, dalam hal ini Kecerdasan Emosional (yang dalam konsep Gardner simetri dengan Kecerdasan Intrapersonal dan Interpersonal) pembentukannya dipengaruhi relasi anak terhadap orang tuanya. Penelitian ini memberikan sebuah asumsi penting berkaitan dengan peran pengasuhan terhadap perkembangan kecerdasan anak. Lingkungan yang dekat dengan anak, memengaruhi perkembangan kecerdasannya.

Penelitian lain menunjukkan keterkaitan antara faktor herediter serta bagaimana peran lingkungan. Trillby Hillenbrand, dalam makalah berjudul The Relationships between IQ Phenotypic Variance and IQ Herritability as a Function of Environment (2008), menjelaskan bahwa aspek phenotype dari IQ mungkin semakin dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti penurunan  kualitas lingkungan. Dapat dlihat bahwa varians fenotipik individu yang mengalami lingkungan kualitas rendah selama  perkembangannya, akan sangat memengaruhi perkembangan IQ nya[20].

Kajian lebih tajam dilakukan Craig T. Ramey, dkk, dalam Intelligence and Experience (2001), yang menjelaskan bahwa perbandingan peran nature dan nurture dalam perkembangan kecerdasan tidak bisa ditimbang secara kuantitatif karena baik faktor genetik maupun lingkungan cenderung dinamis, berkaitan secara kualitatif sehingga tak bisa direduksi ke dalam sebuah perata-rataan yang sederhana. Baik nature maupun nurture keduanya krusial. Pengetahuan terbaru mengenai fungsi otak, pada dasarnya mengakhiri perdebatan mengenai mana yang lebih penting antara nature dan nurture. Lebih jauh Ramey dkk melihat bahwa pengalaman-pengalaman di awal usia perkembangan memiliki kontribusi besar bagi tumbuhnya kecerdasan setelah dewasa. Mekanisme psikososial memiliki keterkaitan dengan perubahan neuro-developmental pada anak dan remaja, terutama yang berkaitan dengan area kognitif, linguistik, sosial dan akibat dari emosi. [21]

Lebih jauh bahkan dijelaskan bahwa kapasitas kognitif memiliki varian perubahan, seperti dihipotesakan pada grafik berikut ini:

Pada grafik di atas ditunjukkan adanya area kemungkinan perkembangan yang dipengaruhi oleh lingkungan. Namun, juga grafik tersebut menunjukkan bahwa faktor genetik juga memengaruhi perkembangan kognitif dan sosial individu.

Semua pemikiran tersebut merupakan dasar yang bisa penulis gunakan untuk melakukan penelitian hubungan antara kecerdasan potensi, yang sifatnya herediter, dan kecerdasan performa yang sifatnya dipengaruhi bentukan lingkungan.

G. Hipotesa

Dengan penjelasan teoritis yang telah penulis kemukakan, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah:

 

“Ada hubungan antara kecerdasan Potensi dan Kecerdasan Performa”

 

 

 

 

 

Bab III

Metode Penelitian

 

 

A. Definisi konseptual Variabel Penelitian

 

Independen Variabel:

 

IV – 1: Kecerdasan Potensi: adalah kecerdasan yang diasumsikan teridentifikasi melalui analisis dermatoglyphic. Kecerdasan Potensi di sini ditempatkan sebagai modalitas yang memengaruhi perkembangan Kecerdasan Performa.

 

Dependen Variabel:

 

DV: Kecerdasan Performa: adalah kecerdasan yang terukur melalui tes inventori Multiple Intelligence.

 

B. Definisi Operasional variabel penelitian

Kecerdasan Potensi adalah komponen-komponen kecerdasan berdasarkan teori Multiple Intelligences, yang teridentifikasi melalui fingerprint test. Semakin tinggi skala pada suatu kecerdasan, menunjukkan semakin simple konfigurasi saraf di bagian tersebut.

Kecerdasan Performa adalah perkembangan komponen kecerdasan berdasarkan teori Multiple Intelligences , yang teridentifikasi melalui tes inventori. Semakin tinggi skala pada suatu kecerdasan, menunjukkan semakin teraktualsasi kecerdasan tersebut.

C. Metode Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan scanner untuk merekam fingerprint dan melakukan komputasi sehingga diperoleh konfigurasi Kecerdasan Potensi, serta menggunakan kuesioner untuk memeroleh data komponen Kecerdasan Performa.

 

 

D. Populasi dan Teknik Sampling

Sampel Populasi penelitan adalah remaja kelas satu pada SMU ‘X’ di Bandung. Jumlah sampel yang diambil adalah 324 anak. Teknik sampling yang digunakan adalah total populasi dari murid kelas satu.

Pertimbangan menggunakan anak kelas 1 SMA adalah mereka berada di fase pertengahan dari masa remaja. Diasumsikan, mereka telah mulai membentuk identitas serta skill yang mereka miliki, juga sudah mulai mengenali minat mereka ke suatu bidang. Dengan demikian, peran lingkungan akan dapat termasuk pula di dalam pengembangan suatu bentuk kecerdasan, serta apakah kecerdasan yang berkembang tersebut selaras dengan kecerdasan potensinya.

E. Metode Pengukuran

Penelitian ini menggunakan dua alat ukur yang menghasilkan sebuah besaran. Pada fingerprint akan menghasilkan kategori berdasarkan jumlah guratan fingerprint dan bentuk fingerprint. Sedangkan melalui tes inventori akan muncul hasil tes yang mengukur kapasitas pada delapan kecerdasan. Baik hasil fingerprint maupun tes inventori keduanya ditranspose ke dalam skala Likert. Skala bergerak antara 4 digit, yaitu: Sangat tinggi, tinggi, rendah, sangat rendah.

Pada tes fingerprint, semakin tinggi menunjukkan bahwa jumlah guratan saraf pada area fungsi otak tertentu makin sedikit. Sedangkan pada tes inventori, semakin tinggi akan menunjukkan tingkat penguasaan pada komponen kecerdasan terkait.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data menggunakan korelasi Pearson (Product Moment) pada perangkat statistik IBM SPSS for Windows versi 20. Teknik analisis statistik Korelasi Pearson atau Product Moment bertujuan mengukur hubungan (keterkaitan linear) antara dua variabel X dan Y, yang akan menghasilkan angka koefisien korelasi antara +1 dan -1 secara inklusif. Dalam teknik statistik ini, hubungan hanya diukur antara dua variabel tanpa memerhitungkan variabel lain yang mungkin secara bersamaan memengaruhi.

Penulis memertimbangkan menggunakan teknik ini karena penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal yang akan berkembang menjadi penelitian lain. Pada langkah awal, premis yang harus terpenuhi adalah menguji hubungan antara komponen kecerdasan yang bersifat inborn atau kecerdasan potensi dalam hubungannya dengan komponen kecerdasan bentukan lingkungan atau kecerdasan performa.

 

 

 

 

 

Bab IV

Hasil Penelitian

 

 

A. Orientasi Kancah

Penelitian ini dilakukan pada sampe populasi siswa kelas 1 pada SMA X di Bandung. Jumlah responden yang berpartisipasi adalah 324 siswa.

B. Uji Validitas Tes Inventori

Hasil uji item pada delapan komponen kecerdasan menunjukkan bahwa hampir semua item memiliki validitas yang tinggi dan memang mengukur kapasitas kecerdasan yang dimaksudkan. Hanya ditemukan satu item yang tidak valid pada tes yang menguji komponen kecerdasan Spasial-Visual. Perhitungan lengkap dari uji validitas dapat dilihat pada Lampiran 1.

C. Uji Statistik hubungan Kecerdasan Potensi dan Kecerdasan Performa

Setelah dilakukan pengujian secara statistik, diperoleh hasil sebagai berikut:

Correlations

LogMat_pf LogBhs_pf SpaVisual_pf Music_pf Kinestetik_pf Intra_pf Inter_pf Natur_pf
LogMat_pt Pearson Correlation -.086 -.008 .027 -.026 .177** .029 .009 .033
Sig. (2-tailed) .121 .883 .626 .643 .001 .601 .866 .557
N 324 324 324 324 324 324 324 324
LogBhs_pt Pearson Correlation .025 .131* .105 .055 .030 .077 -.035 .028
Sig. (2-tailed) .659 .018 .058 .328 .585 .166 .534 .620
N 324 324 324 324 324 324 324 324
SpaVisual_pt Pearson Correlation .069 -.018 .019 -.121* .042 .138* .037 .075
Sig. (2-tailed) .215 .745 .731 .030 .450 .013 .505 .177
N 324 324 324 324 324 324 324 324
Music_pt Pearson Correlation .071 -.032 -.066 .105 -.017 .036 .010 -.092
Sig. (2-tailed) .200 .563 .233 .060 .764 .521 .863 .097
N 324 324 324 324 324 324 324 324
Kinestetik_pt Pearson Correlation .042 -.050 -.003 -.021 -.065 -.092 .024 -.020
Sig. (2-tailed) .456 .366 .955 .712 .247 .097 .666 .715
N 324 324 324 324 324 324 324 324
Intra_pt Pearson Correlation .005 -.021 -.012 -.056 -.022 -.098 -.024 -.043
Sig. (2-tailed) .931 .706 .828 .311 .699 .080 .664 .443
N 324 324 324 324 324 324 324 324
Inter_pt Pearson Correlation -.030 .009 -.030 -.041 -.034 -.098 -.034 -.103
Sig. (2-tailed) .590 .867 .594 .467 .539 .079 .536 .063
N 324 324 324 324 324 324 324 324
Natur_pt Pearson Correlation .031 .087 .002 .067 .035 .005 .016 .007
Sig. (2-tailed) .578 .117 .970 .230 .525 .922 .769 .898
N 324 324 324 324 324 324 324 324
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)

Hasil pada tabel di atas menunjukkan bahwa:

  1. Hubungan antara Kecerdasan Logika-Matematika

Nampak ada hubungan antara kecerdasan Potensi dan Performanya, terlihat dari angka signifikansi yang meski tidak mencapai level p< 0.005, namun angka 0.121 jauh meninggalkan angka signifikansi 6 kecerdasan yang lain.

Hubungan pada level sangat signifikan (p< 0.01) justru terjadi antara Kecerdasan Potensi Logika-Matematika dan Kecerdasan Performa Kinestetik.

Angka korelasi Kecerdasan Potensi Logika-Matematika dengan Kecerdasan Performa Logika-Matematika adalah negatif (-0.86), menunjukkan korelasi berbanding terbalik, menunjukkan semakin kompleks potensi Logika-Matematika maka semakin tinggi performa Logika-Matematika.

Angka korelasi Kecerdasan Potensi Logika-Matematika dengan Kecerdasan Performa Kinestetik adalah positif (0.177) , menunjukkan korelasi berbanding lurus. Artinya, semakin simple potensi Logika-Matematika maka semakin tinggi performa Kinestetik.

  1. Hubungan antara kecerdasan Logika-Bahasa.

Terdapat hubungan di level signifikan (p < 0.05) antara kecerdasan potensi Logika-Bahasa dan kecerdasan performa Logika-Bahasa, dengan angka signifikansi 0.018. Koefisien korelasi Pearson positif (0.131) menunjukkan semakin simple potensi Logika-Bahasa maka semakin tinggi performa Logika-Bahasa.

  1. Hubungan antara kecerdasan Spasial-Visual.

Tidak terdapat korelasi antara kecerdasan potensi Spasial-Visual dengan kecerdasan performa Spasial-Visual.

Terdapat korelasi signifikan antara kecerdasan potensi Spasial-Visual dengan kecerdasan performa Intrapersonal. Angka signifikansi 0.013. Koefisien korelasi Pearson positif (0.138), artinya semakin simple potensi Spasial-Visual maka akan semakin tinggi performa Intrapersonal.

Terdapat korelasi signifikan antara kecerdasan potensi Spasial-Visual dengan kecerdasan performa Musik. Angka signifikansi 0.030. Koefesien korelasi Pearson negatif (-0.121) mengindikasikan semakin kompleks potensi Spasial-Visual maka semakin tinggi performa Musik.

  1. Hubungan antara kecerdasan Musik.

Terdapat hubungan (mendekati signifikan) antara kecerdasan potensi Musik dan kecerdasan performa Musik. Koefisien korelasi positif (0.105) menunjukkan bahwa semakin simple potensi kecerdasan Musik maka akan semakin tinggi performa kecerdasan Musik.

  1. Hubungan antara kecerdasan Kinestetik.

Meski tidak signifikan, namun angka signifikansi Kinestetik nampak jauh lebih mendekati dibanding angka pada enam kecerdasan lain (0.247). Koefisien korelasi negatif (-0.065) menunjukkan semakin kompleks potensi kecerdasan Kinestetik maka akan semakin tinggi performa Kecerdasan Kinestetik.

Angka signifikansi yang paling tinggi cenderung ada antara kecerdasan Kinestetik dan Intrapersonal. Koefisien korelasi negatif (-0.092) menunjukkan semakin kompleks potensi kecerdasan Kinestetik maka akan semakin tinggi performa kecerdasan Intrapersonal.

  1. Hubungan antara Kecerdasan Intrapersonal.

Meski tidak pada taraf signifikan (p < 0.05) namun angka signifikansi antara kecerdasan potensi Intrapersonal dan kecerdasan performa Intrapersonal nampak paling tinggi (0.080). Koefisien korelasi Pearson negatif (-0.098), menunjukkan semakin kompleks potensi Intrapersonal, maka semakin tinggi performa Intrapersonal.

  1. Hubungan antara Kecerdasan Interpersonal.

Tidak ada korelasi antara kecerdasan potensi Interpersonal dan kecerdasan performa Interpersonal.

Meski tidak sampai taraf signifikansi p < 0.05, namun nampak terdapat korelasi antara kecerdasan potensi Interpersonal dengan kecerdasan performa Naturalistik (p = 0.063) dengan koefisien korelasi Pearson negatif (-0.103) menunjukkan semakin kompleks potensi kecerdasan Interpersonal, maka semakin meningkat kecerdasan performa Naturalistik.

Meski tidak sampai taraf signifikansi p < 0.05, namun nampak terdapat korelasi antara kecerdasan potensi Interpersonal dengan kecerdasan performa Intrapersonal (p = 0.079) dengan koefisien korelasi Pearson negatif (-0.098) menunjukkan semakin kompleks potensi kecerdasan Interpersonal, maka semakin meningkat kecerdasan performa Intrapersonal.

  1. Hubungan antara Kecerdasan Naturalistik.

Tidak ada hubungan antara kecerdasan potensi Naturalistik dan kecerdasan performa Naturalistik.

Indikasi hubungan justru nampak antara kecerdasan potensi Naturalistik dan kecerdasan performa bahasa (p=0.117) dengan koefisien korelasi Pearson positif (0.87), menunjukkan semakin simple kecerdasan potensi Naturalistik maka semakin tinggi kecerdasan performa Bahasa.

 

 

 

 

Bab V

Analisa dan DISKUSI

 

A. Analisa dan Diskusi kecerdasan Logika-Matematika

Temuan pada kecerdasan Logika-Matematika adalah:

LogMat_pf LogBhs_pf SpaVisual_pf Music_pf Kinestetik_pf Intra_pf Inter_pf Natur_pf
LogMat_pt Pearson Correlation -.086 -.008 .027 -.026 .177** .029 .009 .033
Sig. (2-tailed) .121 .883 .626 .643 .001 .601 .866 .557
N 324 324 324 324 324 324 324 324

 

Tabel di atas bisa dibaca:

  • Potensi Logika-Matematika memiliki korelasi sangat signifikan dengan perkembangan performa Kinestetik. Koefisien korelasinya menunjukkan angka 0.177. Angkanya positif, menunjukkan bahwa meningkatnya simplisitas kecerdasan potensi Logika-Matematika berbanding lurus dengan meningkatnya kecerdasan kinestetik.
  • Dibanding potensi kecerdasan lain, Potensi Logika-Matematika memiliki korelasi tertinggi bagi perkembangan kecerdasan performa Logika-matematika. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan potensi Logika-Matematika memang memiliki hubungan dengan kecerdasan performa Logika-Matematika. Koefisien korelasi menunjukkan angka -0,86. Angkanya negatif, menunjukkan bahwa meningkatnya kompleksitas kecerdasan potensi Logika-Matematika berbanding lurus dengan meningkatnya kecerdasan performa Logika-Matematika.

Pada dua temuan di ranah Kecerdasan Potensi Logika Matematika di atas, satu hal menarik yang perlu dicermati adalah koefisien korelasi berbeda antara Performa Kinestetik dan Logika-Matematika. Korelasi Potensi Kecerdasan Matematika dengan Performa Kinestetik mengarah ke positif, sedangkan korelasi potensi kecerdasan matematika dengan performa Logika-Matematika mengarah ke negatif.

Angka koefisien korelasi negatif menunjukkan bahwa semakin kompleks potensi kecerdasan Logika-Matematika akan berkaitan dengan pengembangan performa kecerdasan Logika-Matematika. Kompleks di sini berarti semakin banyak pertumbuhan saraf di area otak yang berhubungan dengan kecerdasan potensi Logika-Matematika maka akan semakin mungkin seseorang mengembangkan kecerdasan performa Logika-Matematikanya.

Angka koefisien korelasi positif menunjukkan bahwa semakin simple potensi kecerdasan logika-matematika akan berkaitan dengan pengembangan performa kecerdasan kinestetik. Temuan ini menjadi spekulasi untuk menjelaskan beberapa fenomena:

  • kebanyakan siswa yang menjadi bintang olahraga di sekolah, mereka tidak diiringi kemajuan di bidang akademik. Performa kinestetik membutuhkan kecepatan yang mendekati refleks[22], dengan demikian pola potensi Logika-Matematika yang simple akan mendukung. Konsekuensinya, ‘otak’ mereka kurang responsif terhadap kompleksitas perhitungan yang menjadi basis dari akademis pada umumnya. Selama ini, terbangun stereotipe bahwa mereka yang berpredikat atlet, umumnya kurang maju dalam akademis karena persoalan konsentrasi mereka terhadap latihan. Penelitian ini memberi gambaran lain, bahwa sebelum persoalan jam latihan mereka, ada kondisi yang mendahului, yaitu konfigurasi potensi otak mereka memang simple dalam hal Logika-Matematika sehingga mereka tidak menyukai kerumitan berpikir, mereka adalah atlet yang hidup dalam pola berpikir lepas, intuitif, dan refleks.

 

  • Lemahnya budaya literasi dan kuatnya budaya praktis. Artinya, ini berhubungan pula dengan budaya literasi yang memang rendah. Ini persoalan yang oleh Menteri Pendidikan M. Nuh pada 2012 dicoba dijawab dengan persyaratan menulis jurnal sebagai syarat kelulusan, karena menteri melihat perbandingan jumlah tulisan di jurnal yang masih kalah dari negara lain, seperti Malaysia dan Jepang. Temuan ini menunjukkan bahwa akarnya ada pada kultur yang membentuk kapasitas berpikir akademik, yang salah satu komponen pentingnya adalah Logika-Matematika. Kultur kita membentuk potensi Logika-Matematika ke arah budaya praktis bukan budaya literasi, maka itulah penyebab lebih mungkin untuk rendahnya jumlah tulisan akademisi Indonesia di jurnal ilmiah.

 

  • Peranan dari Frontal lobe dan kemampuan Logika matematika. Korelasi yang bertolak belakang pada penelitian ini menunjukkan bahwa semakin kompleks sistem kerja frontal lobe biasanya menunjukkan respon yang lambat dalam performansinya. Hal ini akan terlihat jelas ketika seorang siswa membutuhkan waktu yang lama ketika harus menyelesaikan soal-soal matematika yang sifatnya sederhana dan membutuhkan kecepatan. Namun, menjadi lebih mampu dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang justru membutuhkan tingkat analisa yang tinggi. Semakin kompleks kerja frontal lobe makan proses analisis yang terjadi akan semakin kompleks dan tentunya diiringi oleh melambatkan performa.

 

Angka signifikansi antara Kecerdasan Potensi Logika-Matematika dan Kecerdasan Performa Kinestetik yang mencapai level sangat signifikan (p < 0.001) yaitu 0.001, jauh dibanding korelasi dengan performa kecerdasan lain (termasuk dengan performa Logika-Matematika) juga menunjukkan indikasi kuat bahwa gambaran budaya dalam akademisi di Indonesia lebih mengarah pada budaya praktis sehingga kecerdasan praktikal yang berhubungan dengan gerak nyata tubuh yang lebih berkembang.

  • Ideologi Pendidikan yang berorientasi kerja. Sekolah diyakini sebagai jembatan untuk mendapat pekerjaan yang menghasilkan uang. Ini yang kemudian membuat orang menjalani pendidikan dengan pikiran praktis. Akibat sampingannya, rentetan kecurangan dalam pendidikan terus berlangsung, karena penekanan pada hasil dan bukan proses belajar. Menghafal dan memilih sesuai hafalan adalah bentuk praktis-kinestetis. Itulah yang dibentuk melalui soal multiple-choice dalam ujian nasional dan bentuk ujian lain. Siswa tidak pernah bisa mengajukan argumentasinya atau melakukan telaah lebih dalam atas kemungkinan lain dari suatu jawaban. Guru atau pembuat soal pun, ‘terlindungi’ dari tanggungjawab memberikan argumentasi atau kemungkinan didebat.

Pola ini membentuk sebuah struktur yang menempatkan sebuah kebenaran tunggal yang berujung pada praktikalitas atau tindakan keseharian. Ini bisa menjadi spekulasi lebih jauh untuk menjelaskan mengapa orang Indonesia mudah digerakkan ke arah sesuatu hanya dengan retorika. Ini karena potensi kecerdasan Logika-Matematikanya tidak terbentuk ke arah nalar, melainkan ke arah gerak. Dengan demikian maka terjadi sebab-akibat antara rendahnya nalar dan mudahnya digerakkan dengan retorika. Menggunakan simbol ‘kebenaran tunggal’ atau ‘kebenaran mutlak’, baik itu dalam agama, maupun gelar-gelar akademis, seseorang begitu saja dipercayai dan dijadikan acuan untuk bertindak tanpa menelaah lebih jauh kedalaman dari apa yang orang-orang tersebut katakan.

Kebijakan mendiknas yang mempunyai program dalam dunia pendidikan, yaitu jumlah untuk SMK sebanyak 70% dan 30% untuk SMU pada 2015. Perubahan jumlah sekolahan ini terpicu data yang diperoleh di lapangan bahwa pengangguran produktif kebanyakan adalah lulusan SMU. Asumsinya, pendidikan SMK akan lebih membekali ketrampilan teknis yang bisa digunakan lulusannya langsung mencari kerja. Ini adalah bentuk bagaimana kapasitas potensi Logika-Matematika lebih diarahkan ke arah praktis. Jika sejak bangku sekolah Mendiknas sendiri membentuk kecerdasan Logika-Matematika ke arah praktis ketimbang budaya literasi, terasa sangat kontradiktif ketika Mendiknas mensyaratkan mahasiswa menulis di jurnal sebagai syarat kelulusan. Rendahnya tulisan di jurnal, adalah juga akibat budaya literasi yang lebih diarahkan ke hal-hal praktis-kinestetis.

Di kalangan mereka yang ‘bukan segmen SMK’ pun cara berpikirnya nyaris serupa. Persaingan ketat di dunia kerja, ditambah bayang-bayang pasar bebas AFTA, membuat para orang tua mulai berinvestasi bagi pendidikan putra-putrinya. Misi mereka sederhana, agar kelak masa depan anak-anak mereka lebih cerah: mudah mendapatkan pekerjaan dan memiliki kesejahtraan yang baik. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mereka mendaftarkan ke sekolah-sekolah plus. Sekolah jenis ini, walaupun biayanya bisa sepuluh kali lipat atau lebih dari sekolah-sekolah negri tidak pernah sepi pendaftar. Bahkan jauh sebelum tahun ajaran baru dimulai, jumlah siswanya telah mencukupi. Ini karena para orang tua berpikir mengenai ‘kepraktisan’ anaknya kelak ketika lulus SMA, yaitu mudah mendapat pekerjaan.

Fenomena lain yang menjadi penjelas bahwa memang cara berpikir yang seharusnya berkembang secara nalar justru berkembang praktis, adalah kegagalan proyek RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang sudah dirintis sejak 2005. Faktanya, proyek besar bernilai miliaran yang dimulai tahun 2005 tesebut, hingga kini (2012) bisa dikatakan gagal. RSBI di seluruh Indonesia berjumlah 1.305 sekolah yang terdiri dari SD, SMP, SMA/SMK diharapkan bisa menjadi SBI. Tenyata tidak ada satu pun yang lolos dalam penilaian.

  • Ideologi Disiplin Tubuh. Jika kita melihat masa sekolah, mulai jenjang SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Sejauh perempuan memiliki proporsi cukup banyak, maka hampir bisa dikatakan mereka selalu ada di kalangan anak-anak terpandai atau dengan nilai tinggi. Pada beberapa amatan, mungkin malah bisa dikatakan perempuan mendominasi kalangan anak pandai secara akademis. Namun menariknya, dalam dunia praktis, para perempuan pandai secara akademis ini tiba-tiba menyusut, atau kalau tak mau dikatakan hampir menghilang sama sekali. Proporsi mereka yang tetap eksis dengan kepandaiannya, bisa dikatakan tak sebanding dengan begitu banyaknya perempuan pandai di bangku sekolah.

Kemana mereka? Sebagian besar jawabannya adalah mereka memusatkan diri pada ranah domestik praktis di keluarga masing-masing setelah menikah. Ini adalah sebuah ideologi tubuh yang juga mengarahkan (atau mengebiri) kapasitas kecerdasan Logika-Matematika ke ranah praktis kinestetis. Kecerdasan Logika-Matematika para perempuan ini, kemudian terkanalkan pada hal praktis semacam: mengurus suami, memasak, mengurus anak dan segala pernak-pernik praktikal lain.

 

B. Analisa dan Diskusi Kecerdasan Logika-Bahasa

 

LogMat_pf LogBhs_pf SpaVisual_pf Music_pf Kinestetik_pf Intra_pf Inter_pf Natur_pf
LogBhs_pt Pearson Correlation .025 .131* .105 .055 .030 .077 -.035 .028
Sig. (2-tailed) .659 .018 .058 .328 .585 .166 .534 .620
N 324 324 324 324 324 324 324 324

 

Hasil pada tabel di atas bisa dibaca:

  • Hubungan antara Kecerdasan Potensi Bahasa dan Kecerdasan Performa Bahasa mencapai level signifikan di bawah 0.05. Korelasinya positif, menunjukkan semakin simple potensi akan semakin tinggi performa. Artinya, indikasi ‘simple’ di sini merujuk pada spontanitas atau bahasa tutur/lisan.

Hasil tersebut memiliki kemungkinan dipengaruhi oleh

  • Keterkaitan Bahasa Verbal dan Gaya Hidup. Hasil tes menunjukkan semakin simple potensi kecerdasan Logika-Bahasa, memberi kontribusi langsung pada tumbuhnya kecerdasan performa bahasa. Artinya, pertumbuhan bahasa di sini bukan merujuk pada pertumbuhan bahasa kompleks semacam budaya literasi (seperti di Barat), melainkan bahasa spontan verbal. Analisis ini bisa dikaitkan dengan kenyataan bahwa gaya hidup anak-anak muda ini memiliki keterkaitan erat dengan bahasa, terutama verbal. Jadi, lingkungan memang mendukung individu untuk piawai bermain dengan bahasa spontan dan verbal. Hal ini nampak pada fenomena di mana Kita hampir selalu menemukan kata atau kalimat yang menjadi trend, seperti: ‘Kacian dech loe’, ‘So what gitu loh’, ‘Sesuatu banget ya’, dst.
  • Bahasa Sederhana dan Lemahnya Budaya Literasi. Hasil yang menunjukkan bahwa semakin simple kecerdasan potensi bahasa menjadi indikator bagi perkembangan kecerdasan performa bahasa pada remaja, kembali menguatkan temuan pada Logika-Matematika, bahwa memang apa yang tumbuh dalam kecerdasan berbahasa, adalah bentuk bahasa simple dan spontan seperti dalam trend gaya hidup yang kita saksikan, dan bukan bahasa kompleks seperti dalam budaya literasi.

 

Spekuasi tersebut bisa dikaitkan dengan data laporan Bank Dunia Nomor 16369-IND, dan studi IEA ( International Association for the Evaluation of Education Achicievement) di Asia Timur, tingkat terendah membaca dipegang oleh negara Indonesia dengan skor 51,7, di bawah Filipina (skor 52,6), Thailand ( skor 65,1), Singapura (skor 74,0), dan Hongkong  (skor 75,5). Bukan itu saja, kemampuan orang Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Ini menunjukkan kapasitas nalar serta budaya literasi (ilmiah) yang sangat rendah.

C. Analisa dan Diskusi Kecerdasan Spasial-Visual

 

LogMat_pf LogBhs_pf SpaVisual_pf Music_pf Kinestetik_pf Intra_pf Inter_pf Natur_pf
SpaVisual_pt Pearson Correlation .069 -.018 .019 -.121* .042 .138* .037 .075
Sig. (2-tailed) .215 .745 .731 .030 .450 .013 .505 .177
N 324 324 324 324 324 324 324 324

 

Hasil pada tabel di atas bisa dibaca sebagai tidak adanya korelasi langsung antara kecerdasan

Kecerdasan Potensi Spasial-Visual, justru berhubungan dengan perkembangan Intrapersonal. Ini memantik spekulasi mengenai kapasitas imagining yang mengarah ke self-building[23]. Ini bisa terkait dengan budaya populer di mana citra mengambil peran sentral dalam masyarakat. Kondisi ini membuat perkembangan potensi Spasial-Visual mengarah justru pada persoalan membangun kepercayaan diri dan menyelaraskan diri dalam ritme budaya yang melingkungi.

  • Kecerdasan Imaji mengarah pada adaptasi terhadap cara membangun identitas diri. Mengapa potensi kecerdasan spasial-visual berkaitan dengan intrapersonal? Nampaknya ini berkaitan dengan stimulasi yang muncul dari lingkungan. Budaya populer menghujani anak dengan stimulasi citra diri yang membuat anak kemudian mengoptimalkan potensi spasial-visualnya pada upaya membangun citra diri.
  • Kecerdasan Imaji mengarah pada adaptasi terhadap ritme atau percepatan. Keterkaitan antara Spasial-Visual dan Musikal, nampaknya menunjukkan keterkaitan antara pencitraan dan ritme. Budaya populer adalah budaya yang memaksa individu masuk ke dalam sebuah ritme kehidupan yang berpadu dengan proses pencitraan.

Perkembangan teknologi informasi misalnya, merupakan pertemuan antara kanal hasrat akan citra dan kanal hasrat akan kecepatan. Perangkat seluler yang dimiliki individu, di satu sisi membentuk citra akan individu yang bersangkutan: gengsinya, penerimaan orang terhadapnya, kelasnya, dan sekaligus akses untuk mengelola pencitraan diri melalui fasilitas tambahan semacam camera serta akses ke sosial media. Di sisi lain, perangkat seluler juga mengadaptasikan individu pada kecepatan. Sebuah gerak yang meringkas ruang dan waktu sedemikian rupa. Kalau dulu, hendak membuka internet harus di depan PC, kini tidak, cukup melalui seluler. Pada saat yang bersamaan, orang yang memegang Blackberry misalnya, akan bisa diakses melalui: BBM, SMS, telpon langsung, e-mail, chat, Facebook, Twitter dan beberapa akses lain. Ini adalah sebuah adaptasi kecepatan, atau dalam hal ini gerak.

 

  • Musik berhubungan dengan membangun citra diri. Bagi sebagian besar remaja dewasa ini, grup musik atau musisi tertentu, sering menjadi bagian dari citra diri mereka. Para groupies atau fans ini membuat berbagai asesoris, mulai kaos, ikat kepala, pin hingga spanduk, yang kemudian mereka bawa ketika musisi kesayangan mereka tampil di suatu event. Di situ satu kelompok membedakan diri dari kelompok lain melalui identitas yang berhubungan dengan musisi kesayangan mereka.

 

Seperti ditulis oleh Kimberly Sena Moore, pada sebuah artikel di Psychology Today, bahwa Musik memainkan peran besar dari waktu ke waktu, terutama ketika seseorang berada di masa remaja dan mengdentifikasi dirinya dengan penyanyi atau jenis musik tertentu yang juga merupakan citra dari generasi mereka saat itu[24]. Di Indonesia, hal ini fenomena ini sangat jelas nampak. Remaja, begitu banyak yang memiliki idola musisi kesayangan, mengidentifikasi dengan musisi tersebut, mulai potongan rambut, cara berpakaian, asesoris, gaya, dan banyak lagi.

 

D. Analisa dan diskusi Kecerdasan Potensi Musik

 

LogMat_pf LogBhs_pf SpaVisual_pf Music_pf Kinestetik_pf Intra_pf Inter_pf Natur_pf
Music_pt Pearson Correlation .071 -.032 -.066 .105 -.017 .036 .010 -.092
Sig. (2-tailed) .200 .563 .233 .060 .764 .521 .863 .097
N 324 324 324 324 324 324 324 324

 

Kecerdasan Potensi Musik memiliki kemiripan dengan temuan pada Kecerdasan Potensi Bahasa, yaitu menjadi satu-satunya kecerdasan potensi yang hanya berkorelasi dengan komponen kecerdasan performa yang sama. Meski tidak masuk kategori signifikan, namun angka signifikansinya mendekati signifikan dan nampak bahwa kecerdasan Potensi Musik berhubungan langsung dengan Kecerdasan Performa Musik. Ini membuat mesti memahami musik bukan semata persoalan lagu, melainkan juga ritme, suara yang berpola, dan bentuk alunan kehidupan yang melibatkan auditori serta perasaan.

  • Musik adalah bagian dari perkembangan kehidupan individu, terutama yang berada di masyarakat modern di kota besar. Lagu juga banyak diajarkan sejak masih anak. Musik memegang porsi besar dalam ranah tontonan, baik melalui televisi maupun panggung-panggung hiburan di masyarakat.

Budaya manusia bisa dikatakan selalu melibatkan musik, entah berupa nyanyian, instrumen perkusi, vokal atau bentuk-bentuk lain. Musik adalah salah satu dari konstanta universal hampir beberapa masyarakat. Di negara-negara industri, musik adalah pengalaman sehari-hari: di jingle komersial atau di lift, bermain di radio  dan iPod, peradaban hampir seluruhnya dikelilingi oleh musik. Itu bisa dilihat pula di Indonesia, maka tak heran jika budaya memberikan dukungan terhadap berkembangnya kecerdasan musik, sehingga individu yang memang memiliki kecerdasan potensi musikal, dapat terdukung perkembangan menjadi kecerdasan performa musikal.

 

E. Analisa dan diskusi Kecerdasan Kinestetik

 

LogMat_pf LogBhs_pf SpaVisual_pf Music_pf Kinestetik_pf Intra_pf Inter_pf Natur_pf
Kinestetik_pt Pearson Correlation .042 -.050 -.003 -.021 -.065 -.092 .024 -.020
Sig. (2-tailed) .456 .366 .955 .712 .247 .097 .666 .715
N 324 324 324 324 324 324 324 324

 

Kecerdasan Potensi Kinestetik menunjukkan kecenderungan hubungan dengan dua aspek kecerdasan performa, yaitu Kinestetik dan Intrapersonal. Pola ini menunjukkan indikasi bahwa

  • Kemampuan mengolah gerak tubuh membangun kapasitas kepercayaan diri. Kinestetik di sini bisa berarti luas, tak hanya mengarah ke olahraga atau penguasaan gerak semacam tari, namun juga gerak-gerak praktis keseharian, seperti bagaimana membawakan diri, membuat gerakan tertentu menjadi ciri khas yang mungkin muncul ketika bicara, atau ketika tampil di depan banyak orang.
  • Individu berkembang dalam masyarakat yang orientasinya lebih pada hal-hal praktis yang dipercayai akan membangun eksistensi dirinya. Artinya, Orang lebih mau bergerak, ketika sudah pasti mendapat hasil, dan di sini ada kecenderungan besar mengabaikan proses. Ini bisa menjadi spekulasi mengapa bentuk-bentuk penawaran yang sifatnya hasil seperti dilakukan oleh para motivator, undian berhadiah, mimpi kesuksesan atau pencapaian yang ditawarkan cerita sinetron, cerita-cerita sukses, dan sejenisnya, adalah hal yang digemari. Itu semua menunjukkan intrapersonal dan kinestetik yang bertautan. Hasil pada kecerdasan potensi kinestetik ini, bisa jadi sangat berkaitan dengan hasil pada kecerdasan potensi logika-matematika yang menunjukkan hasil selaras.
  • Pola pembinaan yang berorientasi hasil, mengabaikan proses. Banyak bentuk pembinaan di Indonesia, bersifat mem-by pass proses sehingga langsung menuju hasil. Sebuah contoh populer adalah sepakbola. Sistem pembinaan sepakbola, cenderung memotong jalur untuk cepat sampai pada hasil, misalnya menaturalisasi atau mengikutkan kompetisi di luar negeri. Artinya, tidak dibenahi sistem yang memungkinkan seorang pemain berproses dari yunior sampai senior, namun memotong dengan cara: naturalisasi, menyekolahkan ke negara yang sepakbolanya maju, dst.
  • Pendidikan di sekolah pun, diarahkan lebih ke output yang bersifat praktis. Seseorang akan dihargai jika setelah sekolah bisa mudah mendapatkan kerja.

 

F. analisa dan diskusi Kecerdasan Intrapersonal

Potensi Kecerdasan Intrapersonal menunjukkan indikasi hubungan kuat dengan Performa Kecerdasan Intrapersonal. Korelasinya negatif, artinya semakin kompleks kecerdasan potensi Intrapersonal, maka akan semakin tinggi kecerdasan performa Intrapersonal.

LogMat_pf LogBhs_pf SpaVisual_pf Music_pf Kinestetik_pf Intra_pf Inter_pf Natur_pf
Intra_pt Pearson Correlation .005 -.021 -.012 -.056 -.022 -.098 -.024 -.043
Sig. (2-tailed) .931 .706 .828 .311 .699 .080 .664 .443
N 324 324 324 324 324 324 324 324

 

Hasil di atas menunjukkan bahwa Kecerdasan Potensi Intrapersonal berkaitan langsung dengan Kecerdasan Performa Intrapersonal. Meski tidak masuk dalam taraf signifikansi p < 0.05, namun angka 0.08 bisa dikatakan mendekati, dan nampak hanya satu-satunya dibanding komponen kecerdasan lain. Korelasi yang muncul negatif, artinya semakin kompleks potensi kecerdasan Intrapersonal maka akan semakin tinggi performa kecerdasan Intrapersonal.

 

Hasil di atas memunculkan spekulasi:

 

  • Kebudayaan yang mengarah untuk membangun kecerdasan Intrapersonal. Ini mengonfirmasi kenyataan bahwa sebenarnya manusia Indonesia memiliki kekuatan pada kapasitas individual dan cenderung bekerja individual. Banyak fenomena bisa dirujuk untuk hal ini. Olahraga misalnya, di berbagai cabang yang sifatnya individual, Indonesia bisa dikatakan mampu menempatkan atlitnya hingga level dunia, sebut saja: badminton, catur, angkat berat, panahan, tenis lapangan, tenis meja, bridge, dst. Jauh lebih bagus daripada cabang-cabang yang mensyaratkan kerjasama tim sangat tinggi semacam sepakbola, basket, voli, dst. Fenomena perebutan kekuasaan atau materi, yang seringkali terjadi sangat mungkin juga karena orang Indonesia.
  • Budaya membandingkan individu. Sejak anak-anak, orang tua sering membiasakan membandingkan anak dengan anak lain, dan orang tua menempatkan kebanggaan di perbedaan positif yang dimiliki anaknya. Ini membuat sebuah ‘kompetisi’ yang mengarah pada pemupukan keunggulan individu, namun melupakan sisi ‘kooperatif’. Sistem ranking yang sudah berjalan berpuluh tahun juga memberi kontribusi, meski sekarang sudah banyak dihilangkan, namun secara bawah sadar belief mengenai kompetisi berdasar perolehan angka individual itu masih ada dan diterapkan orang tua pada anak-anak mereka.

 

G. Analisa dan diskusi Kecerdasan Interpersonal

 

LogMat_pf LogBhs_pf SpaVisual_pf Music_pf Kinestetik_pf Intra_pf Inter_pf Natur_pf
Inter_pt Pearson Correlation -.030 .009 -.030 -.041 -.034 -.098 -.034 -.103
Sig. (2-tailed) .590 .867 .594 .467 .539 .079 .536 .063
N 324 324 324 324 324 324 324 324

 

Hasil di atas menunjukkan bahwa

  • Kapasitas Potensi Interpersonal tidak menunjukkan hubungan dengan perkembangan Kapasitas Performa Interpersonal.
  • Konfirmasi bahwa Indonesia kuat sebagai individu tetapi lemah sebagai sebuah kesatuan. Kapasitas Intrapersonal berkembang namun Kapasitas Interpersonal tidak berkembang sebagaimana mestinya, namun justru mengarah pada kapasitas naturalistik yang berkaitan dengan intrapersonal.
  • ‘Me Generation’, yang selalu menjadi isyu di setiap generasi. Potensi Kecerdasan Interpersonal menunjukkan hubungan dengan Intrapersonal dan Naturalistik. Seperti sudah dijelaskan, kecerdasan naturalistik berkaitan dengan: Good at categorizing and cataloging information easily. Ketika hal tersebut berhubungan dengan Kecerdasan Potensi Interpersonal, sekaligus berkaitan dengan Kecerdasan Performa Intrapersonal, maka ada indikasi kapasitas mengategorikan itu tumbuh dalam pola interaksi sosial yang berbasis pemusatan diri dan pembedaan kelas. Di satu sisi mereka menunjukkan sesuatu yang membuat dirinya berbeda, sesuatu yang ‘gue banget’, tapi di sisi lain mereka juga merujuk pada kesamaan yang membuat mereka teridentifikasi pada kelas atau cluster tertentu yang membedakan dari cluster lain.

h. analisa dan diskusi Kecerdasan Naturalistik

 

LogMat_pf LogBhs_pf SpaVisual_pf Music_pf Kinestetik_pf Intra_pf Inter_pf Natur_pf
Natur_pt Pearson Correlation .031 .087 .002 .067 .035 .005 .016 .007
Sig. (2-tailed) .578 .117 .970 .230 .525 .922 .769 .898
N 324 324 324 324 324 324 324 324

 

Kecerdasan Potensi Naturalistik justru nampak paling berhubungan, (meski tidak signifikan) ke arah Kecerdasan Performa Logika-Bahasa

  • Diferensiasi dan Konsep Diri. Semakin orang mampu membedakan dirinya, semakin ia mampu menarasikan dirinya. Kapasitas untuk berinteraksi, mengategori, dst, menjadi lebih terbentuk ke arah aktivitas bahasa semacam simbolisasi, pemahaman tanda, dst. Orang membedakan dirinya, melalui bagaimana dia membahasakan dirinya

 

  • Anak, dalam dunia modern memang makin terpisah dari alam natur. Dunia anak, lebih ke mall, video game, dst. Interaksi dengan alam lebih sedikit. Interaksi dengan ‘bahasa’ meningkat. Terutama interaksi antar ‘dunia’. Dalam hal semacam video games misalnya, interaksi antara dunia pikiran anak dan dunia dalam games, terbangun melalui kecerdasan berbahasa. Video game, meski tidak selalu menggunakan teks bahasa Indonesia, namun cenderung akan bisa dipahami karena otak anak bekerja ke arah upaya memahami tanda-tanda dalam video game.

 

 

 

 

 

Bab VI

Kesimpulan dan Rekomendasi

 

 

 

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah:

 

  1. berkaitan dengan Fingerprint Analysis:

 

  • Lima komponen Kecerdasan Potensi, yaitu: Logika-Matematika, Logika-Bahasa, Musik, Kinestetik dan Intrapersonal menunjukkan hubungan dengan komponen Kecerdasan Performanya.

 

  • Satu komponen Kecerdasan Potensi, yaitu Kecerdasan Interpersonal, tidak berhubungan dengan komponen Kecerdasan Interpersonal pada Kecerdasan Performa, melainkan pada komponen performa Kecerdasan Intrapersonal dan Naturalistik. Hasil ini mengindikasikan hubungan dengan pola interpersonal yang kontekstual dengan kebudayaan Indonesia.

 

  • Dua komponen Kecerdasan Potensi, yaitu Kecerdasan Spasial-Visual dan Naturalistik, tidak berhubungan langsung dengan komponen Kecerdasan Performanya, namun berhubungan dengan komponen Kecerdasan Performa lain.

 

Secara umum, hasil ini menunjukkan bahwa:

  • Ada korelasi antara Kecerdasan Potensi dan Kecerdasan Performa

 

  • Fingerprint Analysis memang mampu mengidentifikasi faktor innate atau bawaan yang dalam teori Multiple Intelligences didefinisikan sebagai komponen-komponen kecerdasan.

 

  1. Berkaitan dengan Cara Pembacaan

Pengidentifikasian berdasarkan asumsi jumlah saraf di otak yang teridentifikasi melalui pola sidik jari, tidak bisa dibaca sebagai tinggi-rendah kecerdasan, melainkan simple dan complex. Baik simple maupun complex, keduanya menyiratkan kekuatan sekaligus kelemahan.

Berikut ini adalah contoh bentuk cara pembacaan yang relevan dengan apa yang menjadi temuan dan analisis pada penelitian ini. Semakin mengarah ke simple menunjukkan semakin sedikit saraf yang teridentifikasi tumbuh di area otak yang berkaitan dengan suatu komponen kecerdasan. Sebaliknya, semakin mengarah ke kompleks ketika hasil identifikasi menunjukkan semakin banyak saraf yang tumbuh di area otak yang berkaitan dengan kecerdasan tertentu.

 

Komponen Kecerdasan Simple                                         Balance                                      Kompleks
Logika-Matematika n
Logika-Bahasa n n
Spasial-Visual n n
Musik n
Kinestetik n
Intrapersonal n n
Interpersonal n
Naturalistik n

 

 

Cara pembacaan ini mengoreksi cara pembacaan yang menempatkan dalam konteks superior – inferior atau Tinggi – Rendah pada konfigurasi komponen kecerdasan yang teridentifikasi.

 

  1. Berkaitan dengan lingkungan yang membentuk Kecerdasan Performa

Pemetaan potensi jelas penting dan bisa dilakukan melalui fingerprint analysis. Namun, pembentukan potensi menjadi performa, tidak sesederhana stimulasi di lingkungan mikro, melainkan harus disadari bahwa individu juga menjadi bagian dari lingkungan makro. Faktor kebudayaan, baik di lingkup daerah maupun bangsa, turut memengaruhi.

Pembentukan kecerdasan, bukan sebuah kerja individual, melainkan melibatkan banyak pihak. Apalagi di era di mana teknologi informasi begitu mudah, hal ini membuat kontribusi orang tua terhadap kecerdasan anak pun menjadi berkurang. Anak, akan seringkali dihadapkan pada sebuah stimulasi atau informasi di mana mereka harus belajar sendiri dalam pengelolaannya.

 

Rekomendasi

Penelitian yang penulis lakukan adalah satu mata rantai yang dapat membuka pada penelitian-penelitian lain, semacam: Budaya di Indonesia, khususnya budaya pendidikan dan pengaruhnya terhadap pembentukan kecerdasan individu. Bagaimana pun, penelitian ini sudah menunjukkan indikasi suatu hubungan, penelitian lanjutan yang bisa dikembangkan antara lain:

  • Melakukan penelitian di kota lain, melihat perbandingannya dengan apa yang ada di penelitian ini.
  • Melakukan uji pengaruh kecerdasan potensi terhadap kecerdasan performa, dengan memerhitungkan aspek-aspek lain yang mungkin menjadi variabel pendamping atau interverning variabel.
  • Melakukan penelitian longitudinal, mengingat pentingnya pemahaman lebih jauh mengenai Kecerdasan Potensi dan kaitannya dengan perkembangan Kecerdasan Performa.
  • Melakukan rekonseptualisasi pembacaan hasil fingerprint test dengan menghilangkan persoalan tinggi rendah pada masing-masing komponen kecerdasan dan menggantinya dengan simple-kompleks, karena pada dasarnya acuan pertumbuhan saraf di bagian otak tidak selalu mengatakan soal tinggi-rendah kapasitas mengolah informasi, namun simple-kompleks dalam mengolah informasi.

 

 

Daftar Pustaka

 

Anonim;  Retrieved 12 april 2012 pukl 3.55 WIB; Online documents: http://www.brainwonders.in/brain-&-finger-how-it-connects.html

Anonim; Brain Network Related To Intelligence Identified; Retrieved 25 Agustus 2011 pukul 11.07 WIB; Online documents: http://www.sciencedaily.com/releases/2007/09/070911092117.htm

Anonim; Neuroscientists find brain system behind general intelligence; Retrieved 20 Agustus 2011; Online document: http://www.physorg.com/news186071954.html

Anonim; Retrieved 20 Agustus 2011 pukul 8.07 WIB; ;Online documents: http://www.sciencedaily.com/releases/2009/03/090311124020.htm

Cesarik, M dkk; (1996); Quantitative Dermatoglyphic Analysis in Persons with Superior Intelligence; dalam Coll. Antropol 20

Given, Barbara K.; (2007); Brain-Based Teaching; saduran Lala Herawati Dharma; Bandung: Kaifa

Guijun, Zhai; (2006); Report On Study Of Multivariate Intelligence Measurement Through Dermatoglyphic Identification; retrieved 30 Mei 2011 pukul 13.46 WIB; online documents: http://www.zdzw.com/html/yulw.htm

Hillenbrand, Trillby; (2008); The Relationships between IQ Phenotypic Variance and IQ Herritability as a Function of Environment; Retrieved 20 Agustus 2011 pukul 14.45 WIB; Online documents: http://writing.rochester.edu/celebrating/07_winners/hillenbrand_colloquium_essay.pdf

Howard Gardner; (1983); Frames of Mind – The Theory of Multiple Intelligences; New York: BasicBooks

Ian J. Deary, dkk; (2000); Testing Versus Understanding Human Intelligence; retrieved 20 Agustus 2011; online documents: http://homepages.ed.ac.uk/ijdeary/papers/PsychPubPol.pdf

Jung ,Rex E. dan Haier, Richard J.; (2007); The Parieto-Frontal Integration Theory (P-FIT) of intelligence: Converging neuroimaging evidence; dalam Behavioral and Brain Sciences (2007) 30

Junita Anna Tanudjaja, dkk; (2003); Pengaruh Relasi Ortu-Anak terhadap Perkembangan Kecerdasan Emosional; makalah pada Social Research Competition II; tidak diterbitkan.

Moore, Kimberly Sena; (2011); Your Musical Self; retrieved 10 April 2012 pukul 10.58 WIB ;Online documents: http://www.psychologytoday.com/blog/your-musical-self/201110/teens-and-music-noise-or-necessary

Ramey, Craig T., dkk; (2001); Intelligence and Experience; dalam Environmental Effects on Cognitive Ability, editor Robert Sternberg dan Elena Grigorenko; London: Lawrence Erlbaum Associate

Ratih Ibrahim, dkk; (2010); Analisa Sidik Jari dan Psikologi; makalah yang dipresentasikan pada Workshop Pra Konferensi Nasional 2 Ikatan Psikologi Klinis 4 Februari 2010 di Yogyakarta

 

 

 

 

 

Lampiran 1: Uji Validitas Tes Kecerdasan Performa

 

Logika-Matematika

 

Correlations
Logmath
VAR00001 Pearson Correlation .384**
Sig. (2-tailed) .000
N 321
VAR00002 Pearson Correlation .302**
Sig. (2-tailed) .000
N 321
VAR00003 Pearson Correlation .255**
Sig. (2-tailed) .000
N 321
VAR00004 Pearson Correlation .562**
Sig. (2-tailed) .000
N 321
VAR00005 Pearson Correlation .377**
Sig. (2-tailed) .000
N 321
VAR00006 Pearson Correlation .396**
Sig. (2-tailed) .000
N 321
VAR00007 Pearson Correlation .491**
Sig. (2-tailed) .000
N 321
VAR00008 Pearson Correlation .369**
Sig. (2-tailed) .000
N 321
VAR00009 Pearson Correlation .300**
Sig. (2-tailed) .000
N 321
VAR00079 Pearson Correlation .428**
Sig. (2-tailed) .000
N 321
Logmath Pearson Correlation 1
Sig. (2-tailed)
N 321
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

 

Logika-Bahasa

 

Correlations
LogBhs
VAR00001 Pearson Correlation .426**
Sig. (2-tailed) .000
N 322
VAR00002 Pearson Correlation .361**
Sig. (2-tailed) .000
N 322
VAR00003 Pearson Correlation .352**
Sig. (2-tailed) .000
N 322
VAR00004 Pearson Correlation .387**
Sig. (2-tailed) .000
N 322
VAR00005 Pearson Correlation .325**
Sig. (2-tailed) .000
N 322
VAR00006 Pearson Correlation .358**
Sig. (2-tailed) .000
N 322
VAR00007 Pearson Correlation .284**
Sig. (2-tailed) .000
N 322
VAR00008 Pearson Correlation .402**
Sig. (2-tailed) .000
N 322
VAR00009 Pearson Correlation .210**
Sig. (2-tailed) .000
N 322
VAR00010 Pearson Correlation .217**
Sig. (2-tailed) .000
N 322
LogBhs Pearson Correlation 1
Sig. (2-tailed)
N 322
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

Spasial – Visual

 

Correlations
SpasVis
VAR00001 Pearson Correlation .345**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00002 Pearson Correlation .462**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00003 Pearson Correlation .544**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00004 Pearson Correlation .472**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00005 Pearson Correlation .070
Sig. (2-tailed) .212
N 323
VAR00006 Pearson Correlation .461**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00007 Pearson Correlation .378**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00008 Pearson Correlation .322**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00009 Pearson Correlation .491**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00010 Pearson Correlation .488**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
SpasVis Pearson Correlation 1
Sig. (2-tailed)
N 323
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

 

Musik

 

Correlations
Musik
VAR00001 Pearson Correlation .496**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00002 Pearson Correlation .557**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00003 Pearson Correlation .548**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00004 Pearson Correlation .269**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00005 Pearson Correlation .262**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00006 Pearson Correlation .495**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00007 Pearson Correlation .578**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00008 Pearson Correlation .558**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00009 Pearson Correlation .668**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
VAR00010 Pearson Correlation .442**
Sig. (2-tailed) .000
N 323
Musik Pearson Correlation 1
Sig. (2-tailed)
N 323
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

 

Kinestetik

 

Correlations
Kinestetik
VAR00001 Pearson Correlation .389**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00002 Pearson Correlation .548**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00003 Pearson Correlation .392**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00004 Pearson Correlation .317**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00005 Pearson Correlation .209**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00006 Pearson Correlation .467**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00007 Pearson Correlation .470**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00008 Pearson Correlation .331**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00009 Pearson Correlation .500**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00010 Pearson Correlation .402**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
Kinestetik Pearson Correlation 1
Sig. (2-tailed)
N 324
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

 

 

Intrapersonal

 

Correlations
Intrapersonal
VAR00001 Pearson Correlation .388**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00002 Pearson Correlation .293**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00003 Pearson Correlation .457**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00004 Pearson Correlation .354**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00005 Pearson Correlation .511**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00006 Pearson Correlation .507**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00007 Pearson Correlation .498**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00008 Pearson Correlation .351**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00009 Pearson Correlation .554**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00010 Pearson Correlation .222**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
Intrapersonal Pearson Correlation 1
Sig. (2-tailed)
N 324
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

Interpersonal

 

Correlations
Interpersonal
VAR00001 Pearson Correlation .379**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00002 Pearson Correlation .300**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00003 Pearson Correlation .397**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00004 Pearson Correlation .371**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00005 Pearson Correlation .390**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00006 Pearson Correlation .399**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00007 Pearson Correlation .358**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00008 Pearson Correlation .187**
Sig. (2-tailed) .001
N 324
VAR00009 Pearson Correlation .312**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00010 Pearson Correlation .321**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
Interpersonal Pearson Correlation 1
Sig. (2-tailed)
N 324
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

Naturalistik

 

Correlations
Naturalistik
VAR00001 Pearson Correlation .300**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00002 Pearson Correlation .346**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00003 Pearson Correlation .438**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00004 Pearson Correlation .209**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00005 Pearson Correlation .376**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00006 Pearson Correlation .363**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00007 Pearson Correlation .469**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00008 Pearson Correlation .417**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00009 Pearson Correlation .462**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
VAR00010 Pearson Correlation .351**
Sig. (2-tailed) .000
N 324
Naturalistik Pearson Correlation 1
Sig. (2-tailed)
N 324
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

 

[1] Howard Gardner; (1983); Frames of Mind – The Theory of Multiple Intelligences; New York: BasicBooks; hal. 302

[2] M. Cesarik, dkk; (1996); Quantitative Dermatoglyphic Analysis in Persons with Superior Intelligence; dalam Coll. Antropol 20; hal. 413-418

[3] Zhai Guijun; (2006); Report On Study Of Multivariate Intelligence Measurement Through Dermatoglyphic Identification; retrieved 30 Mei 2011 pukul 13.46 WIB; online documents: http://www.zdzw.com/html/yulw.htm

[4] Ratih Ibrahim, dkk; (2010); Analisa Sidik Jari dan Psikologi; makalah yang dipresentasikan pada Workshop Pra Konferensi Nasional 2 Ikatan Psikologi Klinis 4 Februari 2010 di Yogyakarta

[5] Ian J. Deary, dkk; (2000); Testing Versus Understanding Human Intelligence; retrieved 20 Agustus 2011; online documents: http://homepages.ed.ac.uk/ijdeary/papers/PsychPubPol.pdf

[6] Ian J. Deary, dkk; (2000); Testing Versus Understanding Human Intelligence; hal. 1-2; retrieved 20 Agustus 2011; online documents: http://homepages.ed.ac.uk/ijdeary/papers/PsychPubPol.pdf

[7] Ian J. Deary, dkk; (2000); Testing Versus Understanding Human Intelligence; hal. 3; retrieved 20 Agustus 2011; online documents: http://homepages.ed.ac.uk/ijdeary/papers/PsychPubPol.pdf

[8] Anonim; Neuroscientists find brain system behind general intelligence; Retrieved 20 Agustus 2011; Online document: http://www.physorg.com/news186071954.html

[9] Anonim; Neuroscientists find brain system behind general intelligence; Retrieved 20 Agustus 2011; Online document: http://www.physorg.com/news186071954.html

[10]   Retrieved 20 Agustus 2011 pukul 8.07 WIB; ;Online documents: http://www.sciencedaily.com/releases/2009/03/090311124020.htm

[11] Rex E. Jung dan Richard J. Haier; (2007); The Parieto-Frontal Integration Theory (P-FIT) of intelligence: Converging neuroimaging evidence; dalam Behavioral and Brain Sciences (2007) 30, 135–187

[12] Online documents: http://www.sciencedaily.com/releases/2007/09/070911092117.htm

[13]  Brain Network Related To Intelligence Identified; Retrieved 25 Agustus 2011 pukul 11.07 WIB; Online documents: http://www.sciencedaily.com/releases/2007/09/070911092117.htm

[14] Growth Factor adalah zat  yang terjadi secara alami dan mampu menstimulasi pertumbuhan sel, melakukan proliferasi dan  diferensiasi sel.  Biasanya, merupakan suatu protein atau hormon steroid. Growth Factor penting untuk mengatur berbagai proses seluler. Contoh Growth Factor antara lain: Bone morphogenetic proteins (BMPs), Brain-derived neurotrophic factor (BDNF), Epidermal growth factor (EGF), Erythropoietin (EPO), Fibroblast growth factor (FGF), Glial cell line-derived neurotrophic factor (GDNF), Granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF), Granulocyte macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF), Growth differentiation factor-9 (GDF9), Hepatocyte growth factor (HGF), Hepatoma-derived growth factor (HDGF), Insulin-like growth factor (IGF), Migration-stimulating factor, Myostatin (GDF-8), Nerve growth factor (NGF) dan bentuk neurotrophins lain, Platelet-derived growth factor (PDGF), Thrombopoietin (TPO), Transforming growth factor alpha(TGF-α), Transforming growth factor beta(TGF-β), Tumor_necrosis_factor-alpha(TNF-α), Vascular endothelial growth factor (VEGF), Wnt Signaling Pathway, placental growth factor (PlGF), dan masih banyak lagi.

[15] Howard Gardner; (1983); Frames of Minds – The Theory of Multiple Intelligences; Tenth-anniversary edition; New York: Basic Books; hal. 4

[16] Barbara K. Given; (2007); Brain-Based Teaching; saduran Lala Herawati Dharma; Bandung: Kaifa; hal. 71

[17] Barbara K. Given; (2007); Brain-Based Teaching; saduran Lala Herawati Dharma; Bandung: Kaifa Given; hal. 74

[18] Barbara K. Given; (2007); Brain-Based Teaching; saduran Lala Herawati Dharma; Bandung: Kaifa Given; hal. 74

[19] Junita Anna Tanudjaja, Rosabella Febricia dan Yanita Fariana; (2003); Pengaruh Relasi Ortu-Anak terhadap Perkembangan Kecerdasan Emosional; makalah pada Social Research Competition II; tidak diterbitkan.

[20] Trillby Hillenbrand; (2008); The Relationships between IQ Phenotypic Variance and IQ Herritability as a Function of Environment’; Retrieved 20 Agustus 2011 pukul 14.45 WIB; Online documents: http://writing.rochester.edu/celebrating/07_winners/hillenbrand_colloquium_essay.pdf

[21] Craig T. Ramey, dkk; (2001); Intelligence and Experience; dalam Environmental Effects on Cognitive Ability, editor Robert Sternberg dan Elena Grigorenko; London: Lawrence Erlbaum Associates; hal. 83

[22] Ini juga didukung oleh temuan lain yang menunjukkan kecenderungan potensi Intrapersonal yang simple sebagai pendukung performa kinestetik. Ini artinya, dibutuhkan kemampuan untuk ‘lepas’ dalam memutuskan.

[23] Data ini diperkuat oleh temuan bahwa Kecerdasan Interpersonal, berkaitan dengan Intrapersonal dan Naturalistik. Menunjukkan bahwa pola relasi dan membangun eksistensi diri orang Indonesia yang cenderung pada kelas dan pencitraan, dan ‘Me Generation’ (Generasi ‘Gue Banget’)

[24]  Kimberly Sena Moore; (2011); Your Musical Self; retrieved 10 April 2012 pukul 10.58 WIB ;Online documents: http://www.psychologytoday.com/blog/your-musical-self/201110/teens-and-music-noise-or-necessary