Kode Cinta di Sidik Jari

Red-Fingerprint-With-Heart-Inside

“Apakah dia benar-benar pasangan sejatiku ?”

“Cocokkah dia dengan aku ?”

Konon, setiap orang sudah punya jodohnya masing-masing. Setiap orang juga katanya punya belahan jiwa alias soulmate. Benarkah demikian ? Lantas apa yang terjadi dengan pasangan-pasangan yang bermasalah, yang seringkali berselisih dan tidak sedikit yang akhirnya memutuskan untuk berpisah ? Apakah lantas kita katakan bahwa mereka tidak berjodoh ? bukan soulmate ?

Pada awalnya, para pasangan yang bermasalah tersebut mengaku mereka cocok. Saat mereka berpacaran, semua terasa indah. Namun seiring dengan waktu, perasaan itu berubah lalu mereka menyatakan sudah tidak saling mencintai lagi dan akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan alasan sudah tidak ada kecocokan lagi diantara mereka. Sebuah alasan yang klise, bukan ?

Dalam bukunya, Steven R. Covey selalu mengingatkan kita kembali bahwa ‘Love is a verb’. Jadi seharusnya cinta itu adalah sebuah usaha untuk bagaimana mencintai, bukan sebuah keadaan sudah tidak cinta lagi. Kebanyakan orang percaya bahwa cinta adalah ‘take and give’ namun kenyataannya kita lebih banyak menuntutnya ketimbang memberi. Sementara Gary Chapman, seorang psikolog asal Amerika yang banyak memberikan konseling pernikahan menyatakan bahwa penyebab permasalahan perceraian di Amerika Serikat masalahnya adalah itu-itu saja. Beliau kemudian menuliskan dalam bukunya “The Five Love Languages” alias Lima Bahasa Cinta yang menjadi best seller di berbagai negara. Kondisi sudah tidak bisa mencintai lagi disebabkan tidak terpenuhinya ‘kebutuhan’ seseorang terkait dengan bahasa cintanya.

Bisa saja, seseorang telah mencurahkan segala upayanya dalam mencintai seseorang, namun ternyata orang yang dicintainya tersebut tidak mendapatkan rasa cinta tersebut. Mengapa ? karena cinta yang diterima tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga lama kelamaan semakin terakumulasi perasaan kekosongan tersebut dan tak terelakkan akan berakhir dengan perceraian.

Lantas bagaimana mengatasi hal tersebut ?

Tentu saja upaya preventif akan jauh lebih efektif ketimbang memperbaiki keadaan yang sudah ‘terlanjur’ bermasalah. Tapi ada baiknya kita memang mengenal akar permasalahan dari rusaknya suatu hubungan, yakni gagalnya berkomunikasi efektif khususnya dalam suatu hubungan percintaan.

Setiap manusia terlahir unik, seunik sidik jarinya. Artinya tidak ada seorangpun di dunia ini yang memiliki kepribadian yang sama. Oleh sebab itu pengenalan karakter antar pribadi adalah sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap pasangan terutama yang berencana untuk mengikat dalam suatu komitmen pernikahan. Kepribadian seseorang adalah suatu hal yang kompleks, yang terbentuk dari faktor nature (alami) dan nurture (lingkungan). Kepribadian ibarat topeng yang berlapis-lapis maka bisa saja saat seseorang itu berpacaran yang ia tampakkan keluar adalah salah satu topengnya, alias bukan yang aslinya. Banyak orang melakukan pencitraan diri untuk tujuan-tujuan tertentu padahal dengan menjadi diri sendiri akan jauh lebih nyaman.

Jadi, jika anda ingin hubungan anda langgeng dengan pasangan, jadilah diri sendiri apa adanya dulu, dan berusaha saling mengenal karakter ‘asli’ pasangan anda. Dengan mengetahui karakter aslinya tersebut, maka komunikasi dengan bahasa cinta yang efektif akan terjalin. Bagaimana bisa menemukan karakter asli seseorang ? karakter asli seseorang dipengaruhi faktor genetik yang mempengaruhi kerja otaknya. Dan ternyata, sistem kerja otak seseorang bisa diketahui dari sidik jari. Sidik jari terbentuk ketika janin dalam kandungan usia 13-24 minggu. Sidik jari terbentuk karena faktor genetik  dan sidik jari bersifat permanen dan unik alias tidak ada yang sama pada setiap orang. Pola-pola guratan sidik jari pada setiap jari disinyalir memiliki korelasi dengan sistem kerja otak seseorang. Dengan demikian, kita bisa tahu bagaimana karakter asli seseorang dari sidik jarinya.

Pada sidik jari yang ada di ibu jari, mengungkap bagaimana seseorang dalam kaitan mengenali relasi. Sidik jari di telunjuk menjelaskan bagaimana seseorang mengambil keputusan. Sementara pada jari tengah akan menceritakan bagaimana seorang dalam bertindak. Lalu sidik jari pada jari manis bercerita bagaimana seseorang dalam hal berbicara. Dan kelingking, akan mengungkap bagaimana seseorang ketika beradaptasi terhadap lingkungannya.

Pemetaan analisa sidik jari di atas bisa kita hubungkan dengan rumusan ‘Bahasa Cinta’ -nya Gary Chapman  yang menceritakan bahwa cinta terdiri dari lima bahasa, yakni: kebersamaan (quality time), hadiah (gift), ungkapan (verbal), pelayanan (sevice), dan sentuhan (touch). Jadi cinta seharusnya diwujudkan melalui lima hal tersebut. Banyak orang menyatakan mencintai seseorang namun tidak pernah mengungkapkan, memberi hadiah, meluangkan waktu kebersamaan, memberikan pelayanan, bahkan tidak pernah memberikan sentuhan yang berarti, maka bisa dikatakan cintanya tersebut kurang terkomunikasikan dengan baik.

Pola-pola guratan sidik jari sesungguhnya bisa mengungkap kode bahasa cinta seseorang. Bagaimana pandangan (persepsi) mengenai cinta pada diri seseorang bisa kita kenali sebagai berikut:

Pola sidik jari tipe “Whorl” yakni guratan yang berbentuk melingkar, menceritakan bahwa pandangan cinta seseorang  lebih mengutamakan pengakuan, penghargaan dan pencapaian.

Pola sidik jari tipe “Loop” yakni guratan yang membentuk lengkungan, menceritakan bahwa pandangan cinta seseorang lebih mengutamakan proses, pengalaman dan romantisme.

Pola sidik jari tipe “Arch” yakni guratan yang membentuk busur, menceritakan bahwa pandangan cinta seseorang lebih mengutamakan prinsip, aturan dan dedikasi.

Pola sidik jari tipe “Double Loop” yakni guratan yang membentuk dua lengkungan, menceritakan bahwa pandangan cinta seseorang lebih kompleks dan penuh pertimbangan kesempurnaan.

Melalui analisis sidik jari, maka kita akan mendapatkan referensi mengenai apa yang paling efektif yang perlu dibangun dengan menggunakan kode dan bahasa cinta seseorang. Bagaimanakah seharusnya kita mencintai si ‘dia’ dengan benar. Hal-hal apa saja yang sebaiknya dihindari terkait dengan karakter asli pasangan kita. Juga bagaimana kita bisa mengetahui kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri kita dan pasangan kita masing-masing.

Analisis sidik jari bukan ramalan, juga bukan alat untuk men-judge apakah seseorang itu cocok atau tidak dengan calon pasangannya. Justru dengan analisa sidik jari kita akan lebih memperkuat pilihan kita akan calon pasangan, tentang bagaimana kita seharusnya mencintai dia. Kita juga akan lebih belajar memahami kekurangan pasangan kita masing-masing.

Jadi, luangkan waktu anda dan pasangan untuk mengetahui kode bahasa cinta anda berdua melalui analisis sidik jari ini … jadikan cinta itu abadi.

 

Penulis: Andrian Benny – Founder Talents Spectrum