Membangun manusia unggul dengan kembali ke Potensi Fitrah

poolboat

Setiap anak terlahir jenius. Istilah “jenius” dari asal kata “genial” yang berarti dari bawaan lahirnya. Jadi secara fitrah sebenarnya tidak ada anak yang terlahir bodoh, hanya saja lingkungannya yang gagal mengkondisikan seorang anak bisa berkembang secara optimal. Kecuali karena memang kelainan genetik atau terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan cidera otak, maka setiap orang bisa menjadi secerdas Einstein jika distimulasi dengan optimal.
Untuk mengoptimalkan perkembangan potensi kecerdasan inilah diperlukan sebuah proses yang dinamakan pendidikan. Pendidikan adalah suatu proses interaksi manusiawi antara pendidikan dengan subjek didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani “paedagogie” yang artinya bimbingan. Jadi “paedagogie” berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Sementara dalam bahasa Inggris pendidikan diterjemahkan menjadi “Education” yang berarti membawa keluar yang tersimpan dalam jiwa anak, untuk dituntun agar tumbuh dan berkembang. Untuk itulah peran seorang pendidik pada dasarnya adalah mengeluarkan potensi yang sudah ada dalam diri anak didiknya.
Namun metode pendidikan dalam setiap masa memiliki perbedaan-perbedaan maupun pengembangannya disesuaikan dengan kondisi dan tantangan jaman yang dihadapi. Para ahli pendidikan akan terus memodifikasi sistem pendidikan yang paling efektif untuk bisa mengoptimalkan pengembanganan potensi para peserta didiknya. Sehingga, setiap masa akan selalu ada pembahasan mengenai metode pembelajaran apakah yang paling efektif untuk diterapkan di sekolah ?
Kini, seiring perkembangan teknologi dan neuroscience telah banyak pemahaman-pemahaman baru yang dapat disumbangkan dalam ilmu psikologi pendidikan. Penemuan fungsi otak manusia merupakan kunci jawaban dari permasalahan potensi kecerdasan manusia. Telah sejak lama manusia tahu ada hubungan antara perilaku dengan otak, namun belum dapat secara pasti diketahui hubungannya. Kini penemuan-penemuan baru tentang fungsi kerja otak seolah memberikan secercah harapan mengenai misteri manusia khususnya mengetahui potensi-potensi perilaku yang diakibatkan dari fungsi kerja otak tersebut.
Secara neuroscience, manusia yang cerdas adalah manusia yang berhasil mengoptimalkan seluruh fungsi dan area kerja otaknya secara sempurna dan terintegrasi. Dengan demikian jelaslah sudah, jika ingin membuat anak didik kita cerdas, maka fokuslah kepada bagaimana pengembangan cara kerja otaknya. Dengan demikian, sesungguhnya kita bisa lebih membuat strategi yang lebih efektif lagi untuk perkembangan kecerdasan seseorang, dari sisi perkembangan kognitif, afektif sosial, maupun psikomotorik reflektifnya. Kita tidak sedang membicarakan untuk membuat IQ setiap orang bisa di atas 140, namun setidaknya kita bisa memiliki harapan yang lebih besar bahwa setiap orang bisa berkembang secara optimal berdasarkan potensi yang dimilikinya.
Setiap orang adalah unik, masing-masing memiliki kepribadian yang unik juga. Potensi bakat dan kecerdasannyapun sudah pasti berbeda-beda pada setiap orang. Hal inilah yang mendorong Prof. Howard Gardner mengemukakan teori Multiple Intelligence (Kecerdaan Majemuk) sebagai reaksi atas konsep pengukuran kecerdasan IQ. Menurutnya, mengukur kecerdasan seseorang dengan IQ bukan lagi tidak akurat namun menjadi sangat tidak manusiawi. IQ hanya mengukur kecerdasan dari aspek logika matematika, linguistik dan visual spasial. Disamping itu sungguh tidak etis jika kita membanding-bandingkan kecerdasan karena kita harus menghargai perkembangan setiap orang adalah berbeda-beda, dan masing-masing tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Hal yang terpenting dalam mengembangkan potensi seseorang adalah dengan mengetahui potensi bakat dan karakternya. Bakat merupakan kekuatan alamiah yang bisa berespon secara spontan untuk menghasilkann performa terbaik dari dalam diri seseorang. Bakat terkait dengan gairah (Passion) seseorang. Sejatinya bakat merupakan anugerah dari Sang Pencipta kepada hambaNya sebagai “modal” untuk kehidupannya. Namun untuk bisa sukses bakat saja tidak cukup, kita harus memiliki minat yang kuat untuk mencapai tujuan (goals) dalam mencapai prestasi. Seseorang harus memiliki karakter-karakter yang positif dan memiliki sikap mental yang kuat (attitude).
Tugas para pendidik-lah “mengawal” para siswanya untuk bisa mewujudkan bakat dan kecerdasannya. Untuk bisa cemerlang di masa depannya, setiap siswa harus menjadi orang-orang yang ber-Talenta lebih. Masa depan mereka akan dipenuhi persaingan talenta atau dikenal sebagai era perang talenta. Namun jangan khawatir untuk kalah dalam persaingan karena sesuangguh Tuhan telah memilah-milah setiap manusia memiliki area talentanya masing-masing. Jadi, tidak akan terjadi penumpukan talenta karena setiap orang akan dibutuhkan talentanya sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Kita membutuhkan sistem dalam mengelola potensi bakat siswa. Sistem ini disebut sebagai Manajemen Talenta (Talent Management) merupakan pengelolaan terintegrasi dari mulai pengenalan potensi seseorang, pengembangannya (development) sampai dengan penempatan posisi puncak yang paling tepat untuk seseorang. Dengan demikian, sistem manajemen talenta memerlukan serangkaian assessment untuk mengidentifikasi potensi yang dimiliki oleh para siswa, kemudian konsultasi/konseling, serta proses pelatihan dan penempatan yang cocok yang dilakukan oleh pembimbingnya. Disamping itu dalam sistem manajemen talenta maka perkembangan potensi siswa harus senantiasa dipantau/dimonitor dengan baik.
Untuk mengidentifikasi potensi siswa terkait dengan bakatnya, maka ada beberapa tools yang saat ini tersedia. Berkat kemajuan teknologi dan neuroscience, kini metode untuk menentukan potensi seseorang tidak hanya sebatas dalam metode psikometrik yang mengandalkan pengukuran berbasis observasi ataupun respon psikologis seseorang saat diukur, namun kini telah ditemukan metode biometrik yang bisa mengukur data statis potensi yang lebih bersifat genetik dan lebih tepat untuk mengkategorikan sebagai potensi yang dinamakan bakat.
Akhirnya, penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata semakin memperkuat kenyataan bahwa pada dasarnya manusia memang harus kembali kepada potensi “Fitrah”-nya untuk bisa menjadi manusia yang unggul dan amanah di dunia ini.